Refleksi Idul Fitri dan Solidaritas Kemanusiaan

515
Refleksi Idul Fitri
ist/int

Lontar.id – Momen perayaan Idul Fitri patutlah dijadikan kesempatan guna merengkuh kemenangan bagi seluruh umat Islam. Kemenangan itu baru kita rasakan, setelah melaksanakan bulan puasa dengan penuh ketulusan dan mampu mengendalikan hawa nafsu dari berbagai ujian yang datang. Seluruh umat Islam di jagat raya ini melaksanakan perayaan Idul Fitri sebagai hari kemenangan, karena telah lulus ujian dengan predikat ”caum laude”.

Makna Idul Fitri secara metamorfosis ibarat suatu kelahiran kembali. Pendeknya, proses pencerahan batin dari segala kungkungan keakuan yang destruktif. Dalam pemikiran Komaruddin Hidayat (2003), Idul Fitri bukanlah pesta anti-klimaks untuk melepaskan nasfu-nafsu setelah sebulan lamanya dikekang dan dikendalikan. Idul Fitri adalah hari wisuda bagi mereka yang telah berhasil mencapai prestasi dalam upaya mengembalikan keseimbangan jiwa dengan memosisikan kekuatan hati nurani yang bening sebagai alat untuk memegang kendali kehidupan.

Hari raya Idul Fitri merupakan momen yang paling ditunggu oleh setiap muslim yang berpuasa. Di saat momen itulah, mereka telah kembali kepada kesuciaan yang hakiki. ’Id al-Fitri, secara harfiah berarti kembali pada fitrah, kembali pada keadaan semula sebagaimana bayi yang baru lahir. Tidak heran bila Idul Fitri juga disebut sebagai ”Hari Kemenangan”.

Hari kemenangan ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Di sepanjang bulan puasa, umat Islam menyambutnya dengan penuh meriah dan suka cita. Berbagai persiapan dilakukan, agar momen bersejarah ini tidak terlewatkan begitu saja tanpa nilai dan makna yang dapat dipetik.

Perayaan Idul Fitri tidak saja berlangsung di negara-negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia. Di Indonesia, perayaan Idul Fitri juga tidak kalah meriahnya, meski bukan tempat kelahiran agama Islam itu sendiri. Dengan penuh suka cita, umat Islam menyambutnya dengan rasa syukur kepada Allah, karena masih diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan hari istimewa ini. Tidak ayal bila umat Islam memanfaatkan betul anugerah dan rahmat ini guna meminta maaf kepada keluarga, tetangga, dan sesama muslim sendiri agar bisa hidup dengan damai dan rukun sampai ajal menjemputnya.

Solidaritas Kemanusiaan

Perayaan Idul Fitri dengan menampilkan gaya dan modis yang baru bukanlah hakikat kemenangan yang sebenarnya, sehingga yang tampak dari perayaan Idul Fitri itu hanya sekdar bungkusnya saja. Sementara, mutu dan relevansi pada aspek-aspek fundamental kemanusiaan seringkali terabaikan. Akibatnya, perayaan Idul Fitri kehilangan makna dan nilai signifikansinya, yang mencerminkan spirit keagamaan, kebangsaan, perwujudan perdamaian, dan perbaikan tatanan kemanusiaan.

Sebagai umat Islam, kita harus menumbuhkan rasa kepeduliaan dan persahabatan demi membangun solidaritas kemanusiaan yang utuh dan memberikan jaminan ideal bagi terciptanya nilai-nilai kemanusiaan yang humanis-transformatif. Kepedulian tidak hanya menuntut ketajaman analisis dan solusi, melainkan yang paling urgen adalah tindakan nyata atau aksi. Di samping itu, tidak hanya keberpihakan romantis yang ditonjolkan, tetapi juga tendensi empati-praktis.

Terlepas dari hal itu, yang perlu kita kembangkan di negeri ini, sambil kita merayakan Idul Fitri dan usaha menumbuhkan nilai spiritualitas, ialah jargon ”persahabatan dan kesalehan sosial”. Itulah sebabnya, St Sunardi (1999), menekankan kepada kita agar kebiasaan menjalin persahabatan dengan sesama, tidak sampai terbenam ditelan nafsu kekuasaan, dan sebisa mungkin menjauhkan prasangka menjadi sikap terhadap agama ataupun orang ”yang lain” (the other). Meminjam istilahnya, Elisabeth Moltmann (1999), kita harus mengaktualisasikan “friendship combines intimacy, trust and closeness with detachment, respect for the otherness of the other, the mystery of his or her strangeness”.

Momen Idul Fitri sesungguhnya memberikan pesan universal kepada kita semua, agar senantiasa mempererat tali persahabatan dan persaudaraan antara sesama tanpa memandang identitas agama. Setiap komunitas keagamaan dituntut agar mengembangkan companionship sebagai kesaksian dan amanah agamanya. Selanjutnya, setiap agama-agama harus menciptakan persahabatan dengan siapa saja selaku misi dan dakwah. Persekutuan ataupun komunitas agama akan ditandai dengan spirit hospitality (keramah-tamahan yang membuka tangan bagi yang lain), bukan tindakan represif yang akan menimbulkan perpecahan.

Idul Fitri juga tidak hanya bermakna peningkatan iman kepada Sang Pencipta, lebih daripada itu, ia mengandung spirit keagamaan untuk membangun solidaritas kemanusiaan kepada sesama. Peningkatan keimanan juga tidak terbatas pada hubungan kita pada Tuhan, melainkan tumbuhnya kesalehan sosial yang teraktualisasi dalam realitas kehidupan. Itulah cara yang dapat dilakukan guna membersihkan hati dan jiwa kita yang terkadang terbuai oleh rayuan modernitas dan sikap hedonis ala Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan spirit keimanan umat Islam.

Hari Idul Fitri adalah hari istimewa bagi umat Islam, yang berakar dari semangat kepedulian. Kepedulian harus diimplementasikan melalui solidaritas terhadap yang lemah, miskin, dan terbelakang. Biasanya dengan mengeluarkan sebagian rezeki kita melalui jalan zakat yang bisa diberikan sebelum puncak kemenangan itu berlangsung. Bagi yang mampu, semangat solidaritas kepada sesama harus terus dipupuk dan dikembangkan secara berkelanjutan. Itulah sebabnya, kita harus menghindari perayaan Idul Fitri dengan cara ucapan yang bersifat formalistik. Tidak heran, bila ekspresinya terkadang melenceng dari semangat dasar tersebut, bahkan tidak jarang jadi barang dagangan.

Bahkan, ungkapan ”Ucapan Selamat Idul Fitri”, seringkali menjadi komersial dan bisnis. Dengan begitu, kepedulian kepada yang lemah tergantikan oleh naluri pragmatisme hedonis dan kapitalis. Dengan demikian, kepedulian harus ditunjukkan dengan semangat kebersamaan dan solidaritas terhadap penderitaan orang lain dan berupa merefleksikan diri atas berbagai musibah yang menimpa bangsa kita akhir-akhir ini.

Penulis : Mohammad Takdir
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen Fakultas Ushuluddin, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Artikel Asli