Benarkah Idul Fitri Kembali ke Fitrah?

561
Idul Fitri
ist/int

LONTAR.id – Idul Fitri di kalangan umat Islam umumnya dimaknai sebagai kembali ke fitrah atau kembali ke kesucian. Kata id diartikan “kembali” dan fitri diartikan “fitrah”. Maksudnya adalah setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa selama kurang lebih satu bulan, mereka seolah-olah kembali ke dalam kesucian diri (fitrah) yang diibaratkan dengan bayi yang baru dilahirkan. Namun, benarkah pemaknaan idul fitri yang sedemikian itu?

Tulisan ini ingin mencoba menelisik kembali pemaknaan idul fitri seperti di atas. Telisikan ini akan dilakukan dengan setidaknya dua pendekatan, yaitu pendekatan gramatika bahasa Arab dan pendekatan filosofis.

Telisik Gramatikal

Frasa idul fitri yang merupakan gabungan dari kata id dan fitri sesungguhnya tidak memiliki makna yang selama ini digunakan banyak orang. Kata id dalam bahasa Arab artinya adalah merayakan, bukan kembali. Di berbagai kalimat dalam bahasa Arab semua yang mengandung kata id artinya adalah merayakan. Belum ditemukan dalam berbagai ungkapan lainnya di mana kata id diartikan dengan kembali.

Lalu, kata apa dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti kembali? Ialah kata “aud” atau “audah”. Meski asal kata atau kata dasarnya sama dengn id, yakni dari huruf ain, alif, dan dal, penggunaannya dalam kalimat memiliki makna berbeda. Padahal, makna kata itu, dalam bahasa mana pun, sangat bergantung kepada pemakaian penuturnya. Dan, kata id di kalangan penutur aslinya (orang Arab) memiliki arti merayakan.

Selain itu, kata kerja dalam bahasa Arab kerap memiliki pasangan tertentu, biasanya dari huruf jar (preposisi), yang memiliki arti sendiri-sendiri, bahkan bisa bertolak belakang ketika berganti pasangan. Misalnya kata “raghiba” kalau bersanding dengan preposisi “ila” artinya suka atau senang, tetapi ketika berpasangan dengan “’an” justru artinya bertolak belakang, yakni tidak suka atau benci. Nah, kata “aud” atau “audah” yang berarti kembali biasanya berpasangan dengan preposisi “ila”.

Sementara kata fitri berasal dari bahasa Arab, “al-fithr”, yang artinya berbuka. Kata “ifthar” yang kita kenal selama ini berasal dari kata al-fithr tersebut. Kata berbuka di sini merujuk pada aktivitas umat Islam yang berbuka setelah berpuasa seharian. Adapun fitrah dalam pengertian kesucian atau kebersihan dalam bahasa Arabnya juga disebut al-fitrah (dengan ta’ marbuthah). Lagi-lagi di sini tak terkait dengan konteks penggunaan kata dalam kalimat.

Dengan demikian, dari sisi gramatika bahasa Arab, frasa idul fitri lebih tepat diartikan dengan “merayakan berbuka”. Bahwa setelah umat Islam berpuasa selama kurang lebih satu bulan dengan tidak makan dan minum, pada hari Idul Fitri mereka dibolehkan untuk makan dan minum seperti biasanya. Itulah kegembiraan yang mesti dirayakan umat Islam. Karena itu, berpuasa pada hari Idul Fitri dilarang karena akan menghalangi kegembiraan.

Baca Juga : Refleksi Idul Fitri dan Solidaritas Kemanusiaan

Terkait dengan hal ini, istilah zakat fitrah yang selama ini kita kenal juga kurang tepat. Yang lebih pas adalah zakat fitri. Dalam berbagai literatur fiqh, semua ungkapan yang terkait dengan zakat di bulan Ramadhan ditulis dengan ungkapan zakatul fithri. Disebut zakat fitri karena memang zakat ini dikeluarkan sebelum salat Idul Fitri. Kalau sudah lewat dari waktu salat id, tidak bisa disebut lagi sebagai zakat fitri.

Dengan kata lain, zakat fitri dikeluarkan agar semua orang Islam yang sedang berbuka (fitri), setelah berpuasa sebelumnya, bisa bersama-sama makan dan minum atau berbuka. Orang-orang fakir dan miskin pun bisa ikut makan dan minum karena mendapatkan zakat dari orang-orang Islam yang mampu. Itulah kenapa zakat fitri itu wajib bagi setiap orang, dan dianjurkan berzakat dengan makanan pokok, seperti beras bagi orang Indonesia. Tentu supaya tidak ada satu pun orang Islam yang kelaparan pada saat merayakan Idul Fitri.

Telisik Filosofis

Bagaimana dengan pendekatan filosofis terhadap makna Idul Fitri? Menurut saya, pemaknaan idul fitri dengan kembali ke fitrah sulit diterima akal. Fitrah yang diartikan sebagai sifat asal, kesucian atau keadaan diri yang belum dipengaruhi oleh apa pun, baik pemikiran, ideologi atau apa saja, tampaknya sulit atau malah mustahil dicapai oleh manusia setelah dewasa. Tidak akan ada manusia yang benar-benar bisa kembali ke fitrah seperti saat masih bayi.

Tujuan ibadah puasa sendiri sama sekali tidak berbicara tentang manusia yang kembali ke fitrahnya. Ayat yang mewajibkan puasa secara tegas menyebut tujuan puasa adalah “agar kalian bertakwa” (la’allakum tattaqun). Demikian pula di dalam hadits tentang hari id, tidak ada penjelasan tentang fitrah, lagi-lagi yang ditekankan adalah ketakwaan.

Misalnya ada hadits yang mengatakan, “Tidaklah id bagi orang yang memakai pakaian baru, tetapi id sesungguhnya bagi orang yang takwanya meningkat”. Hadits ini menegaskan bahwa orang yang berhak merayakan id adalah orang yang mampu meningkatkan ketakwaannya kepada Allah setelah beribadah puasa. Dan takwa sesungguhnya merupakan puncak keberagamaan manusia.

Kalau begitu, idul fitri tidak memiliki makna yang besar seperti yang selama ini dipahami umat Islam, khususnya di Indonesia? Ya, memang demikianlah yang sebenarnya. Idul fitri tidak mempunyai makna yang besar, karena sesungguhnya yang terpenting bukanlah idul fitrinya, tetapi justru ibadah puasanya. Apakah puasanya benar-benar bisa menjadikan pelakunya sebagai pribadi yang bertakwa ataukah tidak.

Di negara-negara Arab sendiri yang identik dengan Islam, perayaan hari Idul Fitri berlangsung biasa-biasa saja, tidak segegap gempita di Indonesia. Justru yang dirayakan secara lebih besar adalah hari Idul Adha atau hari raya kurban. Ini karena hari Idul Adha berkaitan erat dengan momentum ibadah haji yang bersifat kolosal. Sebenarnya di kalangan orang Jawa juga dikenal sebagai Rayagung, yang artinya hari yang agung atau besar. Tetapi di Indonesia hari raya ini kalah semarak oleh hari Idul Fitri.

Barangkali karena idul fitri di Indonesia dibarengi dengan aktivitas mudik (pulang ke kampung halaman setelah sekian lama merantau di kota), maka perayaan Idul Fitri atau Lebaran tampak menjadi sangat besar dan gegap gempita. Atau mungkin sebaliknya, karena pemaknaan Idul Fitri sedemikian istimewa, maka aktivitas mudik pun mengikutinya.

Saking besar dan gegap gempitanya, kerapkali perayaan Idul Fitri tersebut jauh dari maknanya yang hakiki. Ia justru dipenuhi oleh balutan konsumtifisme yang luar biasa, mulai dari makanan, pakaian, dan sebagainya, sehingga mengabaikan aspek esensinya. Takwa yang sejatinya merupakan tujuan utama ibadah puasa justru terabaikan.

Penulis : Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Artikel Asli