Aktualisasi Pancasila, Pendidikan Berbasis Kebudayaan

Aktualisasi Pancasila
ist/int

Lontar.id – Pendidikan adalah panglima kehidupan, ia menjadi jalan terang mengangkat harkat dan martabat manusia, baik individu maupun masyarakat. Karena seorang yang telah terdidik, hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga hidup untuk masyarakatnya.

Pendidikan dalam arti luas, adalah proses yang berlangsung dalam keluarga (oleh orang tua), sekolah (oleh guru) dan lingkungan pergaulan (oleh masyarakat dan alam raya). Dalam arti yang lebih spesifik, pendidikan adalah proses yang dijalankan oleh dan melalui institusi pendidikan (formal).

Pendidikan Berkebudayaan

Disahkannya RUU Pemajuan Kebudayaan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), semoga menjadi sinyalemen upaya serius pemerintah dalam menjadikan kebudayaan sebagai sistem kehidupan berbangsa dan sekaligus menjadi basis pendidikan nasional. Selirik dengan pernyataan Mendikbud Muhajir Effendi, bahwa “Kebudayaan telah menjadi akar dari pendidikan kita, oleh karena itu, RUU Pemajuan Kebudayaan perlu menekankan pada pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan agar budaya Indonesia dapat tumbuh tangguh,” sebagaimana dirilis laman kemendikbud.go.id

Apa yang disebut sebagai kebudayaan Indonesia, pada hakikatnya adalah archetype kebudayaan di berbagai lokalitas (wilayah) yang menjadi kekayaan sumberdaya budaya (cultural resources) bagi bangsa Indonesia. Kebudayaan dalam makna sebuah proses gerak terus-menerus dari apa yang berasal dari masa lalu menuju masa depan. Dimana hal-hal lama yang baik dan relevan dengan kekinian tetap dipertahankan, dan hal-hal baru yang lebih baik diambil, sebagai sebuah keniscayaan perubahan zaman.

Kebudayaan masih kerapkali dianggap hanya tentang tradisi dan seni, walaupun tradisi dan seni merupakan aspek yang sangat penting dalam kebudayaan, karena ia menjadi ruang perwujudan antara kebudayaan sebagai sebuah nilai (filosofis) dan kebudayaan sebagai ekspresi (antropologis), dengan pesan-pesan simbolisnya.

Lebih jauh, kebudayaan terkait erat dengan aspek spiritual-mental yang hadir dalam sebuah masyarakat, ia menjadi subjek yang mengilhami kehidupan individu maupun masyarakat. Kebudayaan sebagai produk akal budi-nurani manusia merupakan sesuatu yang dirasai secara seksama, dialami secara bersama, dan dipraktikkan secara terus-menerus oleh sebuah masyarakat/bangsa, kemudian membentuk laku kolektif yang berdasar pada nilai-nilai luhur.

Kebudayaan berkelindan dengan pengetahuan, ingatan dan penghayatan terhadap nilai-nilai, yang menjadi sumber inspirasi dalam membentuk pranata sosial sebuah masyarakat. Nilai-nilai itu berasal dari ‘teks suci’, ditemukan oleh akal budi, dan kedalaman hati-nurani.

Kepatuhan terhadap nilai, menjadi ukuran kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa, karena nilai terkait erat dengan sejauh mana kualitas spiritual-mental sebuah bangsa yang menjadi pijakan mengelola aspek material kehidupannya.

Bangsa dengan kebudayaan adiluhung, adalah bangsa yang reflektif, karena manusia yang patuh terhadap nilai, pada hakikatnya telah mampu menjangkau kedalaman dirinya, menemukan esensi kemanusiaannya yang memiliki jalinan intim dengan Sang Khalik.
Dunia pendidikan, memiliki posisi strategis dalam mewujudkan kebudayaan dalam kehidupan, karena di sana terjadi transformasi nilai (values) dan pengetahuan (knowledge) yang berlangsung secara simultan.

Bangsa Jepang, menjadi sebuah bangsa yang maju, karena mampu mentransformasi kebudayaannya melalui dunia pendidikan, kebudayaan tidak hanya hadir sebagai teori pengetahuan, tetapi juga terwujud dalam laku keseharian. Di sekolah-sekolah Jepang, anak-anak dididik sedari dini untuk hidup bersih, tertib dan rapi. Tiap hari, para siswa-siswi diajak untuk mengalami kebudayaannya. Kejujuran, kemandirian dan etos kerja keras, dapat kita saksikan dalam praktik-praktik hidup bersekolah di sana. Di negeri Samurai itu, kebudayaan dialami sebagai entitas yang membentuk karakter, sikap dan etos kehidupan individu dan masyarakat sejak dibangku pendidikan.

Aktualisasi Pancasila

Di Indonesia, praktek korupsi yang telah menggurita seringkali disebut telah ‘mem-budaya’. Padahal korupsi adalah sesuatu yang secara prinsip bertentangan dengan akal budi dan nurani, sehingga tak dapat dikatakan sebagai budaya, ia justru adalah bentuk penghianatan terhadap kebudayaan itu sendiri.

Kebudayaan bangsa ini pada hakikatnya adalah perwujudan dari ajaran dan nilai luhur agama-agama, dimana Pancasila hadir sebagai ejawantah dari intisari nilai-nilai luhur tersebut, ia menjadi dasar negara, sekaligus sebagai pandangan hidup bersama bangsa Indonesia. Hanya saja, Pancasila seringkali dianggap hanya sebagai dasar negara, tidak menjadi dasar kehidupan kewargaan dan kewarganegaraan. Sehingga masih kerap dijumpai sikap anti keragaman SARA, kekerasan atas nama agama, hingga fenomena anti Pancasila itu sendiri.

Hal tersebut terjadi, karena Pancasila hanya diajarkan sebagai teori-pengetahuan, dimana sila-silanya berhenti pada hapalan. Ia tidak dialami sebagai kebudayaan, sebagai nilai yang mendasari aktifitas kehidupan, yaitu laku yang merupakan cerminan jiwa dan pikiran, melalui tutur, sikap dan perbuatan.

Apalagi, sejak dihapuskannya materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dengan hanya Pendidikan Kewarganegaraan saja di semua jenjang pendidikan sejak tahun 2011, memberikan implikasi pada tidak tersemainya nilai-nilai Pancasila pada generasi muda sejak bangku sekolah. Muatan pendidikan Pancasila yang menekankan pada nilai, pengetahuan dan praktik hidup berbasis pada nilai-nilai kebudayaan, adalah katalisator utama kehidupan bangsa yang majemuk, sehingga penting mendesak pemerintah melalui kementrian pendidikan untuk mengembalikan materi pendidikan Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan nasional.

Tentu materi pendidikan Pancasila diharapkan tidak hanya menekankan pada aspek kongnitif semata-semata, tetapi juga dimensi afektif dengan membiasakan praktik-praktik kehidupan yang memanifestasikan kebudayaan masyarakat lokal setempat. Para peserta didik diajak untuk memahami kearifan budayanya, kemudian secara simultan didorong untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kearifan itu dalam kehidupan kesehariannya, baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Hal tersebut secara sederhana dapat diwujudkan dengan menghidupkan nuansa praktik hidup bersesama; gotong royong, musyawarah, toleransi, tenggang rasa serta nilai-nilai kekeluargaan-kebersamaan lainnya.

Ketika nilai-nilai kebudayaan itu dapat tersemai dan hidup dalam diri para generasi muda, maka penghayatan terhadap Pancasila akan tumbuh, kemudian mengalami kristalisasi sebagai spirit dalam jiwa mereka, yang menjadi modal utama untuk berhikmat demi kemajuan bangsanya.
Aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam praktik pendidikan dan pengajaran di sekolah dan di masyarakat secara luas, adalah sesuatu yang harus diupayakan sungguh-sungguh sejak dini, agar Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa, dapat hadir secara imanen dan terus-menerus dalam kebudayaan bangsa Indonesia.

(Catatan Hari Pancasila 1 Juni)
Oleh: M. Fadlan L Nasurung