Pengakuan Dosa Penjaga Warung Kelontong Sederhana

2112
Penjaga Warung
gambar : malakayuara.wordpress.com

LONTAR.id – Di artikel sebelumnya, Riset Konsumen ala Penjaga Warung Kelontong, Bu Maemunah sudah menjabarkan tipe-tipe pelanggan yang jamak ia temui selama mengelola warung kelontong. Kali ini, beliau ingin bercerita tentang hal-hal yang telah membuatnya merasa bersalah, baik pada pelanggan maupun pada dirinya sendiri.

Sambil mengenakan daster panjang sederhana dan kudung berwarna biru muda, Bu Maemunah mulai melakukan ‘pengakuan dosa’. Suara anak-anak bermain bola di lapangan sekitar 50 meter dari warung Bu Maemunah terdengar lamat-lamat, mengisi kekosongan setiap jeda antar kalimat.

“Jangan disambung-sambungkan dengan politik lagi. Ibu tidak mengerti. Ibu juga takut nanti malah kenapa-kenapa,” pesan beliau sambil terkekeh.

Mengingat keadaan Indonesia yang sedang panas dan tidak stabil, wajar rasanya bila rakyat kecil seperti Bu Maemunah mudah merasa was-was. Apa daya, hampir setiap informasi di media sosial berpotensi untuk dipelintir lalu disalahgunakan.

Tanpa ada maksud untuk menghubung-hubungkan dengan kejadian atau tokoh tertentu, berikut adalah beberapa ‘dosa’ yang Bu Maemunah rasakan, selama lebih 10 tahun mengelola warung kelontongnya :

1. Pilih Kasih

Tidak hanya pada anak, ternyata tendensi untuk pilih kasih bisa terjadi pada pelanggan warung Bu Maemunah. Pada pelanggan biasa, beliau tidak terlalu memberi perhatian lebih. Tetapi, pelanggan yang sudah terlampau akrab dengan beliau biasanya dapat menikmati hal-hal yang tidak bisa dinikmati pelanggan lain, seperti potongan harga di hari-hari tertentu, kelonggaran untuk berutang, hingga diberi semangkuk sayur atau sepiring kue buatan tangan Bu Maemunah! Bu Maemunah memang dikenal gemar bagi-bagi makanan, bukan kursi. Soalnya beliau hanyalah pemilik warung biasa, bukan pengusaha mebel.

2. Yang Baik untuk yang Baik, yang Buruk untuk yang Buruk

Selain terkait perihal jodoh, ungkapan ini juga berlaku pada… Uang kembalian. Dari sekian banyak pelanggan warung Bu Maemunah, tidak semua bisa bersikap ramah atau setidaknya menghargai. Kadang ada pembeli yang kasar, jutek, bahkan cenderung arogan. Sebagai pemilik warung, Bu Maemunah enggan membalas dengan perilaku serupa. Beliau menolak untuk melawan kekasaran dengan kekasaran, jika masih memungkinkan. Namun, beliau juga punya sistem pertahanan diri sendiri, yaitu dengan memberi uang kembali yang lusuh, atau bahkan berupa koin recehan. Sebaliknya, pelanggan yang ramah dan manis kelak akan mendapat uang kembali yang kondisinya jauh lebih layak. Cukup passive-aggressive juga Bu Maemunah ini.

3. Intervensi Suasana Hati

‘Senyum adalah ibadah’, Bu Maemunah pun mengamini itu. Tapi, beliau mengaku tidak mampu melakukannya setiap saat. Kadang suasana hati beliau bisa nampak dengan jelas dari cara beliau berkomunikasi dengan pelanggan. Saat sedang bahagia, beliau tidak segan mengajak pelanggannya ngobrol, bahkan bercanda. Sebaliknya, saat sedang marah atau kesal, mimik wajah Bu Maemunah akan terlihat mendung dan irit bicara.

“Kalau kebetulan lagi ndak mau senyum, ya, saya ndak senyum. Untung ini warung saya, jadi ndak mungkin dipecat,” ujar Bu Maemunah.

Salah satu faktor penentu mood Bu Maemunah, menurutnya, adalah tipikal pelanggan yang sedang berbelanja. Kalau sudah sering kasar atau berperilaku tidak menyenangkan, ada kemungkinan beliau tidak akan beramah-ramah, apalagi bagi-bagi jabatan, eh, makanan. Tapi Bu Maemunah sendiri mengaku bahwa hal ini tidak absolut. Kadang pelanggan tidak ramah karena punya masalah pribadi. Kemarin ketus, tiba-tiba hari ini ramah. Syukurlah hal ini tidak berlaku pada dunia politik Indonesia, karena politikus kita sangat setia dan konsisten pada pendiriannya.  Perpindahan kubu itu sangatlah tabu. Mungkin Bu Maemunah bisa belajar dari situ, supaya bisa senantiasa senyum walapun suasana hati sedang tak menentu.

4. Datang Tak Dijemput, Pulang pun Tersebar

Jikalau ada dua tempat yang ditengarai sebagai titik pertemuan ibu-ibu untuk gosip, itu adalah gerobak tukang sayur dan warung tetangga. Membicarakan polemik rumah tangga tetangga sebelah sambil memilah sayur dan cabe merah bisa dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat kita. Hal ini juga terjadi di warung Bu Maemunah.

Entah sudah berapa kali pelanggannya berbagi gosip terhangat sambil menunggu belanjaannya dihitung, atau sengaja datang khusus untuk mengobrol, mengisi waktu luang. Bahkan, pernah ada dua orang tetangga yang tengah berseteru, lalu masing-masing curhat pada Bu Maemunah! Selain menyampaikan kebenaran versi pribadi, mereka juga menyebutkan hal-hal buruk soal pihak oposisi. Tentu beliau bingung harus percaya cerita siapa, bagaimana saling memahamkan tanpa menyinggung perasaan atau berkesan memihak, semua serba salah. Bu Maemunah sedih.

Sepertinya tindakan paling aman yang bisa Bu Maemunah lakukan adalah meletakkan tangan di dada, seraya berkata, “Saya prihatin,”

5. Nama Samaran Khusus Pelanggan

Sebenarnya ini tidak hanya dilakukan oleh penjaga warung saja. Tapi, sering kali hal ini dilakukan dalam konteks yang cenderung negatif. Bu Maemunah menciptakan nama samaran untuk pelanggan tertentu, lalu menggunakannya ketika berkomunikasi dengan anak-anaknya agar pelanggan lain yang kebetulan ada di sekitar mereka tidak tahu apa-apa.  Salah satu nama samaran yang Bu Maemunah ciptakan adalah ‘kelapa’, untuk merujuk pada salah satu pelanggan berbadan jangkung bak pohon kelapa. Saat ditanya apakah Bu Maemunah pernah pakai istilah ‘Apel Malang’, ‘Apel Washington’, ‘Juz’, atau ‘Liqo’, beliau hanya melongo dan menggeleng pelan.

Belum sempat Bu Maemunah balik bertanya, adzan maghrib sudah berkumandang. Wawancara segera dirampungkan. “Jangan bosan main ke sini, ya,” pesan beliau.

Ya, sepertinya masih banyak kisah Bu Maemunah yang menarik untuk diabadikan dalam bentuk tulisan.