Dari Workshop Lahir Serikat Kritikus Film di Sulsel

makassar
Foto istimewa

MAKASSAR, LONTAR.id – Dunia perfilman di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) khusunya di Kota Makassar kembali bangkit. Banyak sineas barbakat mulai bermunculan membuat film yang mengangkat adat, budaya, serta cerita-cerita legenda di Sulsel.

Tak hanya itu, para sineas Makassar juga banyak melahirkan pemain film yang berasal dari Sulsel. Dalam kurun beberapa tahun belakangan ini, sudah belasan film bernuansa Sulawesi Selatan yang menghiasi layar bioskop di Indonesia. Bahkan ada beberapa diantaranya yang sukses mendulang penghargaan tingkat nasional. Seperti film ‘Uang Panai’.

Jelas itu membuktikan jika kualitas film garapan sineas-sineas di Kota Makassar sudah bisa bersaing dengan kota-kota besar lainnya, dan juga memiliki nilai jual yang cukup luar biasa.

Meski begitu, sukses tidaknya suatu film biasanya memiliki kesalahan-kesalahan dalam proses penggarapan. Baik dari cerita, pengambilan gambar, akting pemain, bahasa yang digunakan, sampai pada properti-properti. Namun, kadang penonton tidak menyadari itu.

Untuk itu, lahirlah kritikus-kritikus film. Baik di luar negeri maupun di dalam negeri sendiri. Tujuan bukan untuk mencaci maki hasil karya sutradara. Bukan juga untuk menjatuhkan. Namun, lebih kepada mengkaji hasil karya seni film.

Namun, sejak puluhan tahun belakangan ini Indonesia sedang mengalami krisis kritikus film. Kurangnya pelatihan pendidikan kritik film sehingga membuat pengetahuan orang dalam mengkritisi sebuah film ikut berkurang, menjadi salah satu penyebabnya.

Nah, kebangkitan dunia perfilman di Sulawesi Selatan kemudian membuat Pusat Pengembangan (Pusbang) Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbut) ingin kembali melahirkan kritikus-kritikus film.

Itu dibuktikan dengan digelarnya workshop bertema Kritik Film dan Non Kritik di Kota Makassar, Sulsel, selama tiga hari mulai 4 September 2017, hingga 6 September 2017. Pesertanya puluhan orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari seniman, penggiat dan pemerihati film, mahasiswa, sampai wartawan.

Pemateri yang dihadirkan dalam kegiatan itu adalah orang-orang ternama di dunia seni, terlebih perfilman Indonesia. Seperti Wina Armada Sukardi, Adi Surya Abdi, Benny Setiawan, Aang Jasman, Hadi Utomo, Tommy F Awuy, Hardo Sukoyo, dan Sulkarnaen Nasution.

Kegiatan ini bahkan dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang. Dalam sambutannya, wakil gubernur dua periode ini mengaku sangat mengapresiasi pelatihan kritik film ini.

“Kita sama-sama tahu, untuk berkembang lebih baik lagi kita perlu kritikan. Nah begitu juga perfilman. Bangkitnya kembali perfilm di Sulsel adalah suatu hal yang luar biasa. Dengan film-film yang mengangkat kisah-kisah yang ada di Sulsel hasil karya sineas kita, banyak masyarakat yang jadi tahu. Ini menurut saya sangat mengedukasi,” kata Agus Arifin Nu’mang.

Menurut Agus, lahirnya kritikus-kritikus film dari worksop ini, akan menambah warna tersendiri bagi perfilman di Sulsel, bahkan di Indoneia.

“Ini akan memacu para sineas untuk lebih memperbaiki karyanya lagi. Jelas dengan adanya kritikan dari para kritikus film menjadi pelajaran para sinesia untuk lebih bagus lagi dalam berkarya,” pungkasnya.

Untuk mengaplikasikan pengetahuan yang didapatkan dari workop kritik film tersebut, para peserta kemudian membentuk forum yang dinamai Serikat Kritikus Film yang disingkat Serius Film.

Serius Film diisi beberapa pengurus. Zulkifli Gani Otto ditunjuk sebagai ketua. Wakil Ketua I dijabat Bahar Merdu. Wakil Ketua II yakni Anjas Cambang. Sekertaris disi oleh Muhammad Lutfi, dan Bendahara yakni Sunarti Sain alias Una.

“Kita harapkan hasil dari worksop ini tidak berhenti di sini saja. Dan Alhamdulillah, hari ini Serikat Kritikus Film (SKF) resmi kita bentuk dan kita akan perkenalkan ke publik dalam waktu dekat,” ujar Zulkifli Gani Otto.

Selanjutnya, kata Zugito, program jangka pendek SKF Sulsel yaitu melengkapi kepengurusan serta menggelar Rapat Kerja (Raker).”Seperti kata Pak Asmin Amin, matahari masih terbit di timur, dan itu di Kota Makassar. Untuk itu mari kita jadikan SKF ini sebagai wadah para kritikus film yang berbasi di Kota Makassar,” tandas mantan Ketua PWI Sulsel ini.(WA)