Kepala BNNP Pertegas Sulsel Darurat Narkoba

82
Kepala BNNP Sulsel
Kepala BNNP Sulsel, Brigjen Pol Drs Mardi Rukmianto (kiri), memaparkan data-data soal penyalahguna dan peredaran narkoba / foto kifly

MAKASSAR, LONTAR.id – Peredaran narkotika di tengah-tengah masyarakat sudah sangat memprihatinkan. Tiap tahun jumlah penyalaguna barang haram tersebut semakin meningkat. Jelas, itu membuktikan jika Indonesia merupakan pasar para pebisnis narkoba.

Khusus di Sulawesi Selatan, pengguna narkoba di tahun 2017 ini angkanya mencapai 132.800 orang. Itu menyasar kalangan remaja, sampai orang tua. Mulai pelajar sampai pejabat.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel, Brigjen Pol Drs Mardi Rukmianto, saat menggelar press reales di kantornya, Jalan Manungal, Makassar,  Rabu (13/9/2017).

Bahkan, mantan Kepala BNNP Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini menegaskan jika Sulawesi Selatan sudah betul-betul darurat narkoba. Banyaknya pelabuhan ‘tikus’ menjadi salah satu penyebab mudahnya narkoba masuk di Sulsel.

“Sulsel ini salah satu daerah yang menjadi pasar segar bagi para pemasok narkoba skala internasional. Urutan sembilan. Banyak pelabuhan-pelabuhan kecil yang dijadikan jalur tikus untuk memasukkan narkoba,” jelas Brigjen Pol Mardi.

Data BNNP Sulsel, menununjukkan jika Sulsel berada di urutan sembilan penyalahguna narkoba terbanyak di Indonesia.

Menurutnya, dari data hasil penelitian pihaknya, banyak narapidana yang mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji besi alias penjara.

“Lapas ini masih menjadi surga narkoba. Banyak narapidana yang mengendalikan peredaran narkoba. Dan di situlah tantangan kami, karena Lapas ini di bawah Kemenkumham, jadi ada batasan untuk kami masuk,” sebutnya.

Ditanya soal peredaran di kalangan remaja atau pelajar, orang nomor satu di BNNP Sulsel yang baru menjabat sebulan lebih ini menyebutkan jika Sulawesi Selatan berada di urutan ke enam untuk tingkat penyalaguna narkoba di kalangan pelajar.

“Yang pertama Yugyakarta, kemudian Jakarta, Sumatera Barat, Kalimantan Utara kemudian Sulsel. Ada yang baru nyoba dan ada yang usdah setahun pake narkoba,” ungkapnya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya akan melakukan berbagai strategi untuk menekan angka penyalahguna narkoba. Caranya, kata dia, dengan meningkatkan jumlah penggiat antinarkoba hingga ke pelosok desa.

“Tidak bisa kita pungkiri, kami di BNNP ini betul terbatas personilnya. Hanya 80 orang lebih. Kami bisa berbuat apa coba dengan jumlah itu. Makanya kami akan merangkul penggiat antinarkoba hingga pelosok desa. Ini untuk memutus rantai peredaran barang haram itu,” tandasnya.

Untuk jenis narkoba yang beredar di Sulsel, kata Mardi, sejauh ini belum ada jenis baru seperti Falakka Zombie.”Di Sulsel yang paling nomor satu itu Sabu-sabu, Ganja dan obat-obatan. Kalau jenis baru belum ada,” sebutnya.

Iapun mengingatkan agar masyarakat yang terlanjur menjadi pecandu untuk segera melaporkan diri agar direhabilitasi. Baik rawat inap maupun rawat jalan. Tergantung tingkat kecanduannya.

“Untuk rehabilitasi itu tidak ada bayaran sepersenpun alias geratis. Kalau yang minta uang laporkan sama saya. Kalau yang terlanjur ditangkap yah harus jalani hukuman dulu. Beda sama yang melaporkan diri,” kuncinya.(WA)