Wajah Perfilman Makassar : “LATAH” JADI ARTIS? MAKIN MENGGEMASKAN

229
Wajah Perfilman Makassar / ilustrasi

Budaya Siri’ cermin sineas Makassar

2 (dua) tahun belakangan ini, masyarakat perfilman Makassar menggeliat dengan berjamurnya produksi film dan open casting. Setiap minggu bahkan selang 2 hari selalu ada panggilan casting tersebar melalui sosial media. Baik itu audisi / casting film layar lebar, pendek maupun casting talent. Namun terakhir yang menghebohkan adalah casting untuk FTV (Film Televisi) yang dilakukan oleh oknum yang mengaku PH Jakarta, yang pada kenyataannya hanyalah modus, untuk memanfaatkan ke “tale-talekang” remaja Makassar yang mau jadi artis, sebagaimana pemberitaan di media Fajar, selasa 10 Oktober 2017 bertajuk “Awas Penipuan Berkedok Casting FTV”.

Sudah sewajarnya sineas kita tanggap dengan situasi seperti ini. Sineas Makassar harus bersatu, bukan sebaliknya bersaing ke arah yang tidak sehat, dengan merasa “lebih” dari yang lain. Produksi film ibarat kain, kalau ada satu noda, maka akan mencoreng keseluruhan kain tersebut, kalau ada produksi lokal yang “asal” maka film lokal lainnya ikut kena imbas, akan dianggap sama meskipun pada kenyataannya tidaklah demikian. Banyak hal yang memang seharusnya sineas kita berbenah merespon kondisi yang tengah berjalan kini, dan ini menjadi PR bagi orang-orang yang benar-benar peduli mau melihat perfilman Indonesia, bangkit dari Timur. Apalagi di bumi anging mammiri ini telah hadir wadah Serikat Kritikus Film Indonesia – Sulsel yang diharapkan bersama insan perfilman daerah dapat menumbuhkan iklim kondusif bagi dunia perfilman tanah air, khususnya Makassar.

Gambaran modus casting untuk memungut bayaran serta pensyaratan foto seksi bagi calon-calon artis Makassar oleh oknum tidak bertanggungjawab itu hanyalah salah satu dampak, dari situasi “booming”nya perfilman kita saat ini di Makassar. Jangankan PH dari luar, PH-PH-an (tanpa legalitas jelas)  lokal pun ada ditemui melakukan hal seperti itu, kalau mau main dalam produksinya “Harus Bayar” dengan dalih pengikutsertaan modal dalam produksilah, nanti akan dapat hasil dari penjualan tiket dan lain sebagainya, yang semua terkesan hanya memanfaatkan kehebohan “orang-orang yang mau jadi artis”, terlebih lagi, memanfaatkan orang tua yang kebelet segera anaknya tenar dan dapat peran dalam film.

Kondisi maraknya anak muda dan remaja makassar yang kepingin jadi artis menjadikan wajah perfilman makassar semakin menggemaskan. Namun disisi lain adalah sasaran empuk bagi oknum tidak bertanggungjawab memanfaatkan keberadaan mereka. Saking menggemaskannya, Jangankan minta bayaran, mereka disuruh membayar pun sebagian mau asalkan ikut main dalam film. Selain sudah menjadi hal umum kalaupun mereka dibayar, sebagai pendatang baru akan dibayar “seadanya” dan mirisnya rata-rata tanpa “kontrak” didepan. Hitung-hitung belajar sambil cari pengalaman pikir mereka. Film macam apa yang mau dihasilkan kalau “memaksa” menggunakan talent yang belum “jadi” hanya karena membayar ?

Sebenarnya, kalau menurut saya, ada sedikit andil dari sineas perfilman itu sendiri, disamping memang pengalaman menunjukkan, apakah style masyarakat kita sudah begini tipenya “latah” ?. Saya ingat, dulu sekitar awal tahun 2000-an, saat harga vanili selangit, maka hampir seluruh petani beralih menanam vanili. Kemudian beberapa tahun lalu, sepanjang jalan orang kumpul berjualan berbagai batu-batuan cincin, dan kini diawali “keajaiban” Uang Panai meraih film lokal terlaris secara nasional, pada ramai sudah orang garap film sana sini, PH-PH-an muncul bak jamur. Tentunya, kondisi seperti ini juga banyak kesamaan dengan daerah lain. Tapi kembali pada andil sineas kita sendiri, yang karena mungkin sudah tenar duluan atau ingin diikutkan dalam produksi film teman-teman yang masuk dari pusat atau lainnya membiarkan atau bahkan ikut mendukung kondisi seperti ini tercipta. Mengapa tidak kita budayakan siri’ yang selalu menjadi latar film produksi kita menjadi pemicu menghargai nilai-nilai profesional di dunia perfilman. Mulai dengan pemilahan film yang baik, perijinan, persiapan crew, casting sesuai peruntukannya, kontrak di depan untuk setiap pemain yang akan dipilih, reading naskah,  semua beres barulah shooting. Ringkasnya, mulai pra produksi – produksi dan pasca produksi berjalan sesuai desain produksi yang rapih dan profesional.

Manajer dan Attitude Artis

Di Makassar ini masih dapat dihitung jari agency-agency perfilman atau keartisan. Kalau agency model dan fashion sudah banyak, karena industri mereka lebih dahulu populer di Makassar.  Jadi wajar kalau masih banyak sineas kita yang fobia dengan kata manajer artis.  Padahal salah satu yang dapat mengurangi ter-eksploitasinya talenta berbakat yang kita miliki dalam industri perfilman adalah peran seorang manajer artis yang benar-benar profesional. Besar sekali peranan sebuah manajemen artis yang “benar”, termasuk menelusuri “kebenaran” setiap ada iklan casting via sosial media, agar “ke-latah-an” calon artis berebut jadi artis melalui casting yang ada terhindari dari oknum tidak bertanggungjawab. Beberapa sineas Makassar yang saya temui, justru merasa kalau berhubungan dengan manajer artis dikatakan ribet dan bertele-tele, bagaimana mau maju perfilman daerah kalau sineasnya tidak menghargai profesinya sendiri. Sebaliknya dengan dunia barat, karena tidak mau ribet soal artis yang akan digunakan, makanya mereka lebih senang berhubungan dengan agency manajemen artis.

Kondisi perfilman daerah kita semakin diperparah, dengan kurangnya “attitude” yang dimiliki oleh para artis dan calon artis itu sendiri. Sebagian besar mau instan jadi artis, bahkan yang baru secuil depan kamera pun sudah kena penyakit “start syndrome” sudah merasa artis hebat, merasa tidak perlu belajar dan berlatih lagi, karena cantik, tampan dan bermodal sudah cukup rasanya bekal untuk ke Jakarta. Jangan mimpi ! Berapa banyak artis tenar Makassar kita yang mengadu nasib ke Jakarta, toh balik lagi ke Makassar mencari kehidupan. Apalagi dunia entertainment ini, tidak seperti bisnis lain, sangat sulit mempertahankan ketenaran dan kepopuleran sebagai nilai jual. Itulah mengapa seorang talent atau artis / calon artis butuh seorang manajer profesional atau wadah manajemen tempatnya bernaung, dan sineas daerah perlu mengapresiasi hal ini.

Dalam buku berjudul Artist Management 101: Jalan Panjang Lahirkan Bintang (2012), Sulung Landung pendiri manajemen artis Avatara88 yang menaungi Julie Estelle, Kevin Aprilio, Cathy Sharon, Vino G. Bastian, Dion Wiyoko, dan beberapa artis lain menyatakan, “Sulit bagi seorang artis untuk melihat gambaran besar dari keseluruhan rancangan kariernya tanpa ada perspektif dari berbagai aspek, terutama bisnis. Di sinilah peran seorang manajer.

Bahkan penyanyi dan bintang film sekelas Raisa Andriana dalam sebuah konferensi pers, seorang jurnalis menanyakan nomor kontak Raisa yang bisa dihubungi, dengan maksud sebagai salah satu cara jurnalis menjaga hubungan dan mengkonfirmasi berita yang akan mereka tulis. Terus apa jawaban seorang artis profesional tersebut ? “Ke nomor manajer aku saja ya, ini nomornya…,”. Ini hanya satu fakta dan contoh, betapa seorang bintang yang baik, sangat menghargai nilai profesionalisme profesi mereka. (detikcom)

Hampir semua  bintang yang saat ini menghiasi layar kaca bernaung dibawah manajemen artis dan punya manajer artis, sebut saja Handi Sugilar memanajeri Irfan Hakim, Astrid Tiar dan Jennifer Arnelita. Kemudian ada Indra Bekti dengan Talent Inbek Artis Managementnya yang menaungi Deryansha, Fourteens, SundayKrunch, Fitri Tropica, CJR, Agung Hercules, Magdalena, dan Cassandra Lee. Terus ada Nanda Persada, dengan sederet artis-artisnya Annisa pohan, Ayu Dewi, Alika, Nycta gina, Cici Panda, Demian dan Soraya Larasati. Dan siapa yang tidak kenal dengan Vera Zenobia yang akrab di sapa mak vera, setelah sukses melejitkan nama Almarhum Olga Syahputra, Chand Kelvin, Tarra Budiman, dan Edric Chandra, dirinya banyak menerima permintaan untuk menjadi manajer artis pendatang baru. Serta masih banyak lagi manajer artis lainnya, yang bernaung di bawah IMARINDO (Ikatan Manajer Artis Indonesia) pimpinan Nanda Persada, ada kurang lebih 300 manajer membawahi sekitar 600 artis.

Lantas bagaimana dengan anak-anak artis dan calon artis Makassar yang begitu menggemaskan? Apakah menunggu tenar dulu baru mau mencari manajer artis?, justru sebaliknya saat mengawali keartisan inilah seorang calon artis harus didampingi seorang manajer atau bernaung di salah satu manajemen artis, sekaligus dapat meminimalisir ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, memanfaatkan  “ke-latah-an” remaja / orang awam Makassar berebut jadi artis. Saya yakin oknum-oknum pembuat casting FTV abal-abal itu, atau oknum berikutnya yang akan buat casting serupa akan keteteran jika berhadapan dengan manajemen artis yang profesional. Dan teman-teman sineas Makassar hargailah profesi manajemen artis sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dunia perfilman. Dengan saling menghormati nilai profesionalisme yang ada, bila “benar” ingin perfilman daerah kita bangkit. Sebelum kondisi menggemaskan ini, jatuh ke tangan yang “mengincarnya”. Sebab, bukan hal mustahil, tanpa ibukota pun kelak bintang-bintang dari timur akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.