Yang Tergantung pada Penanda

134

LONTAR.id – Kata dan tubuh memiliki kaitan kuat. Pertama, kata mengonsepsiskan suatu kekerabatan penanda dan melahirkan pemaknaan. Kedua, tubuh menjadi kata (penanda) yang menafsirkan pemaknaan atas hubungan kata-kata, sekaligus mengimplementasikan hubungan pemaknaan tersebut kedalam tubuh sosial (masyarakat).

Kata dan tubuh (manusia) adalah hasil elaborasi konsep dan penerjemahan melalui tindakan. Namun meskipun keduanya menjadi asosiasi vital, mediasi penanda tidak bisa menghadirkan tafsir seragam, sebab perjumpaan setiap orang dengan sebuah penanda adalah upaya menenun penanda dihadapannya dengan pengalaman (sebelumnya)  dan pengetahuannya masing-masing.

Coba bayangkan kita sedang berjalan ke sebuah tempat, misalnya Mall, dan tidak lagi ada tanda, gambar atau kode sama sekali. Running teks pada iklan di sebuah layar datar, gambar artis yang sedang menyuguhkan produk tertentu di tembok-tembok mall,  petunjuk pada pintu toilet, semua produk jualan menjadi polos, semuanya tiba-tiba hilang, dan kita hanya melihat dua warna – hitam dan putih.

Saat itu kita sedang berada di tengah kerumunan orang menjadi manusia paling terasing. Tidak dapat memahami apa-apa. Dunia seperti hilang sekejab mata. Demikian juga orang di sekitaran kita, mereka mendadak tidak bisa melakukan apa-apa. Dunia mereka saat ini terkunci. Bisu dan beku!

Penanda-penanda itu membuat kita kehilangan banyak hal, termasuk kehilangan diri sendiri. Satu-satunya yang bisa menolong adalah kita butuh meregistrasi ulang sebuah sistem, menciptkan kembali konvensi untuk mengurai-jelaskan hubungan-hubungan baru.

Peristiwa itu mau tidak mau memaksa manusia memulai suatu kehidupan, di mana penanda yang dipakai adalah penanda non-verbal. Seperti sebuah rumah baru ia harus dimulai dari landasan paling awal, yakni fondasi rumah. Fondasi yang mendesak manusia untuk memahami bahwa hal itu menjadi dasar kita menciptakan payung dalam sebuah kehidupan bersama.

Kita harus menciptakan fondasi bahasa untuk dapat menerang-jelaskan suatu hubungan. Bahasa yang fondasinya tidak saja digerakkan kode gerak tubuh, tetapi juga memiliki bunyi, sehingga media penghantar arus keinginan dapat dipahami dan terealisasi sesegera harapan manusia.

Lahirnya fondasi bahasa akan melahirkan konvensi bersama dalam sebuah masyarakat pengguna. Konvensi-konvensi ini selalu merujuk pada kenyataan lingkungan, sosial, dengan hubungan manusia dengan macam-macam material di sekitarannya.

Dari sini memunculkan penanda yang bisa dijustifikasi sebagai bahasa universal dan partikular. Justifikasi penanda dan pemaknaan universal sangat dipengaruhi oleh hubungan-hubungan manusia dengan lingkungan budaya lainnya.

Hubungan dan interaksi satu sama lain mendorong untuk menciptakan dan memahami secara bersama, misalnya apa yang disebut keadilan, cinta, dan kemanusiaan – juga ekspresi kesedihan dan kebahagiaan yang dikodekan dengan menangis dan tertawa. Itu adalah keinginan kolektif sekaligus penanda umum untuk menilai maksud atau mengenali dan memahami ekspresi tersebut. Sebaliknya, terdapat konvensi yang sama sekali tidak sama dari wilayah satu dan lainnya.

Inilah yang disebut produksi dan distribusi penanda yang hanya bisa dipahami oleh komunitas itu sendiri. Penanda tersebut adalah penanda partikular. Penanda yang, misalnya, hanya mungkin dipahami oleh orang Jawa, Batak, Bugis, atau mereka mempelajari dan mengalami produksi bahasa kebudayaan tersebut.

Sebuah penanda sama sekali tidak memiliki hubungan langsung dengan material yang dinamainya. Sebagai contoh, tidak ada hubungan langsung antara kata meja dan meja itu sendiri, pohon dan kata pohon itu sendiri.

Kehadirannya hanya terjerat dalam kesepakatan serta pengalaman bersama untuk menamai benda-benda tersebut. Dengan kata lain, kata hadir secara arbitrer atau semena-mena, tergantung dari kesepakatan sosial budaya tempat tersebut.

Di sinilah kehadiran kata sebagai penanda, kemudian hari, menanggung makna secara tidak otonom. Artinya, tidak satu pun makna kata (penanda) yang dapat berdiri sendiri, tanpa terhubung dengan penanda lainnya. Setiap penanda atau kata selalu butuh konteks, butuh penanda-penanda lainya dalam menciptakan sebuah makna.

Setiap orang ketika berhadapan dengan sebuah penanda, baik gambar atau kata, tafsir atasnya tidak berasal dari apa yang dihendaki oleh pengirim kode atau penanda tersebut. Ketika seseorang berhadapan dengan kata cinta atau gambar eskrim, tafsir pemahaman atau pemaknaan akan muncul secara beragam. Mungkin kamu yang bertatapan dengan kata atau gambar cinta, malah menafsirkan kata atau gambar tersebut dengan penderitaan sekaligus janji kebahagian. Begitu pun dengan eskrim, barangkali kamu menjadi salah seorang yang tiba-tiba merasakan rasa ngilu sebab pernah mengalami trauma pada gigi.

Lantas, sebagai contoh lain, bagaimanakah tubuh Anis Baswedan dan kata pribumi dimaknai pada pidato politik pasca pelantikan – yang diributkan di seantero negeri. Penanda tersebut (tubuh dan kata-kata itu) tak lain adalah spektakel, di mana tubuh Anis menjadi aktor serta kata-kata dan segala perangkat di sekitarnya menjadi bahasa. Dalam hubungan ini, apa yang diributkan di mana-mana itu sama sekali tidak memiliki hubungan dengan maksud pertunjukan itu sendiri. Tetapi, munculnya kelindanan pemaknaan tak lain bersumber dari tafsir penonton (spectator) yang menjahit pengalaman masa lalu penandaannya terhadap kode yang dilihat atau dibacanya. Tenunan penanda-penanda bisa terjalin atas dasar trauma terhadap bahasa (pribumi vs penjajah) atau bahkan dasar penolakan dilandasi pada sisa kebencian pada tubuh yang membahasakan kata tersebut. Kedua sisa traumatis itu dapat lahir dari diskursus sejarah kolonialisasi masa lalu atau neo-kolonialisasi yang sedang di rasa di depan mata; atau bahkan sisa traumatis dalam perhelatan pilkada Jakarta sebelumnya.

Tubuh mengonsepsikan penanda sekaligus menjadi penanda atas dirinya. Tidak ada hubungan asosiasi pemaknaan pada sesuatu tanpa pengalaman sebelumnya akan sesuatu. Untuk melahirkan sebuah pemaknaan atas suatu hubungan penandaan selalu memerlukan mediasi. Mediasi inilah yang bekerja menghubungkan pengalaman dengan penanda yang akan diterjemahkan dalam suatu medan pemaknaan. Oleh karena itu, mari memikirkan kembali sebujur diskursus atau distribusi penanda-penada di sekitar kita. Daripada sekadar latah-latahan dan menghabiskan energi pada pertunjukan di seberang pulau, mungkin penanda suara tangis di samping rumah meraung-raung itu sedang butuh pertolongan. Demikian!