Rusia Tuding Inggris Mencoba Rusak Piala Dunia

Ilustrasi / internet

LONTAR.id – Kasus tewasnya mantan mata-mata Rusia di Inggris karena diduga diracun 4 Maret 2018 lalu, berbuntut panjang. Kini, Rusia menuduh Inggris mencoba “merusak kepercayaan” publik menjelang perhelatan Piala Dunia 2018 musim panas ini, dengan menuding Moskow sebagai otak di balik kasus eks mata-mata yang keracunan di Salisbury itu.

“Kami telah berulang kali memperingatkan bahwa media Barat akan meluncurkan kampanye skala besar yang bertujuan menjatuhkan Rusia dan merusak kepercayaan kami menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, dilansi CNNIndonesia, Selasa (13/3/2018).

“Seperti yang kami asumsikan, Inggris telah secara aktif terlihat tidak bisa memaafkan Rusia bahwa kami lah yang terpilih dalam kompetisi secara jujur untuk menjadi tuan rumah turnamen tersebut.”

Keterangan ini dilansir untuk merespons pernyataan Perdana Menteri Theresa May yang mengatakan bahwa Rusia “sangat mungkin menjadi dalang di balik serangan racun terhadap mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, di tanah Inggris, 4 Maret lalu.”

Moskow menyatakan London menggunakan kasus Skripal sebagai dalih untuk menyerukan pemboikotan. Juru bicara Kemlu Rusia, Maria Zakharova, menganggap Inggris belum melakukan penyelidikan menyeluruh terkait insiden itu.

“Tudingan terhadap Rusia ini merupakan bagian dari kampanye informasi dan politik berdasarkan provokasi. Tudingan ini adalah pertunjukan sirkus dalam parlemen Inggris,” kata Zakharova kepada kantor berita pemerintah, seperti dikitip AFP.

“Daripada membuat dongeng baru, mungkin seseorang dari negara itu bisa menjelaskan bagaimana sejumlah kasus sebelumnya [yang serupa] berakhir. Soal kasus kematian Litvinenko, Berezovsky, Perepilichny, dan banyak lainnya yang secara misterius meninggal di tanah Inggris,” lanjutnya.

Skripal, yang pernah menjadi agen ganda untuk Inggris, ditemukan tidak sadarkan diri bersama putrinya, Yulia, di sebuah bangku dekat pusat perbelanjaan di Salisbury, 4 maret lalu. Polisi mengonfirmasi keduanya terpapar racun yang belakangan diketahui merupakan racun saraf.

Penyelidikan polisi menunjukkan Skripal terpapar racun Novichok, jenis senjata kimia yang dikembangkan oleh Rusia. Menurut May, Rusia kerap menggunakan racun itu untuk membunuh “pembangkang.”

Senada dengan Inggris, Amerika Serikat juga berasumsi bahwa Rusia kemungkinan besar berada di balik serangan racun itu.(*)