Alasan Jepang Lebih Pilih Robot Daripada Tenaga Kerja Asing

30
Ilustrasi / AFP

LONTAR.id – Jepang lagi dilanda krisis tenaga kerja. Itu disebabkan menyusutnya angka populasi di Negeri Sakura tersebut. Walau bukan untuk pertama kalinya, krisis ini merupakan yang terburuk dalam 25 tahun terakhir.

Para pakar ekonomi telah sering mengajukan usulan kepada Perdana Menteri Shinzo Abe untuk melonggarkan aturan imigrasi untuk tenaga kerja asing agar bisa lebih leluasa datang dan bekerja di sana.

Namun, usulan itu justru ditolak pemerintah, dan lebih memilih menggunakan kecerdasan buatan alias robot dan tenaga kerja perempuan yang sudah berumur sebagai solusi krisis tenaga kerja.

“Meski otonom bisa memitigasi penyusutan jumlah populasi, tapi imigrasi besar-besaran akan menjadi solusi (yang lebih baik),” kata Kohei Iwahara, ekonom dari Natixis Japan Securities, yang khawatir dengan kebijakan pemerintah tersebut seperti dilansir CNBC.

Sejauh ini, Jepang hanya mengizinkan pekerja asing untuk bekerja sementara di sana. Profesor di International Christian University di Tokyo, Stephen Nagy mengatakan bahwa Jepang menginginkan pekerja migran, bukan imigran.

Pekerja asing tersebut pun hanya boleh masuk ke dalam sektor pekerjaan kelas bawah, manufaktur, perawatan orang tua, dan bidang lain yang kekurangan tenaga kerja. Namun Tokyo tidak ingin pekerja tersebut menjadi karyawan permanen.

Menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketiga dunia, Jepang memiliki alasan sendiri mengapa negaranya sangat tegas dalam membuat aturan mempekerjakan tenaga asing di negaranya.

“Ada kekhawatiran kalau Jepang akan menghadapi masalah sosial dan peningkatan kriminalitas kalau (Jepang) membuka jalan bagi pekerja asing yang tidak berasimilasi,” ucap Jeff Kingston, profesor di Temple University di Jepang.

Bulan lalu, Abe mengumumkan bakal membuka kesempatan untuk menerima pekerja profesional asing. Tetapi, ia ingin ada batas durasi tinggal dan anggota keluarganya tidak boleh menemani mereka selama di Jepang.

“Jepang telah menerima kurang dari 1.000 pengungsi sejak 1982,” kata Kingston. “Angka yang sangat kecil, lebih sedikit dari Islandia, sudah menghalangi Jepang untuk memiliki potensi dinamika.”

(sumber: Kumparan)