Tidak Pakai Helm, Kelompok Mahasiswa Ini Geruduk Ditlantas Polda Sulsel

Aliansi Mahasiswa Peduli Hukum saat menuju Kantor Ditlantas Polda Sulsel, di Jalan AP Pettarani, untuk melakukan aksi unjuk rasa. Nampak sejumlah mahasiswa tidak mengenakan helm saat mengendarai sepeda motor / ist

MAKASSAR, LONTAR.id – Sekelompok pemuda mengatasnakan Aliansi Mahasiswa Peduli Hukum mendatangi Kantor Ditlantas Polda Sulsel, di Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Selasa (13/3/2018). Mereka datang dengan mengendarai sepeda motor. Nampak sejumlah dari kelompok mahasiswa itu tidak mengenakan helm.

Kedatangan mereka ke Kantor Ditlantas Polda Sulsel tersebut untuk melakukan aksi unjuk rasa. Mereka menuntut agar polisi, terlebih bagian lalu lintas, menjalankan tugas sesuai Standar Operasional Prosedur atau SOP.

Dalam aksinya, para demonstran meminta Ditlantas Polda Sulsel untuk mengavaluasi seluruh jajarannya. Bahkan, para massa meminta Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sulsel, Kombes Pol Agus Wijayanto, mundur dari jabatannya.

Dalam tuntutannya, para pengunjuk rasa juga menyikapi dugaan pungli yang terjadi di jajaran Ditlantas Polda sulsel. Hal tersebut dengan adanya proses tilang yang tidak sesuai dengan regulasi.

“Banyak warga yang ditilang diminat uang tidak sesuai dengan jumlah yang semestinya. Kami mendapat data beberapa warga yang ditilang tidak sesuai dengan regulasi. Sama halnya dengan pembuatan dan perpanjangan SIM ditarik biaya tidak sesuai dengan regulasi yang ada,” kata Kordinator Lapangan, M Fajrin Azis.

Aliansi Mahasiswa Peduli Hukum melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Ditlantas Polda Sulsel / ist

Tak hanya itu, massa tersebut juga membeberkan kasus penyimpangan yang dilakukan oknum polisi lalulintas (polantas) beberapa hari yang Ialu tepatnya Selasa 6 Maret 2018.

“Salah seorang pengendara atas nama Agus melaporkan bahwa dirinya di tahan oleh oknum Polantas yang bertugas di JI. A.P Pettarani karena yang di bonceng tidak menggunakan helm. Yang menjadi persoalan adalah oknum Polantas tidak memberikan surat tilang, malah meminta uang sejumlah Rp 1.250.000 sebagai uang tebusan untuk mengambil SIM yang disita oleh oknum polantas tersebut, uang yang dimaksud pun harus dibayarkan paling Iambat 1×24 jam,” bebernya.

Aksi yang sebelumnya berjalan damai itu pun berakhir ricuh. Para pengunjuk rasa yang hendak menahan mobil untuk dijadikan panggung orasi terlibat saling dorong dengan polisi.

Bahkan, petugas dan para pengunjuk rasa nyaris adu jotos hingga ke pinggir jalan. Sejumlah motor milik para demonstran jatuh saat terjadi aksi saling dorong.(wan)