Dampingi Istri Melahirkan, PNS Tidak Harus Cuti Sebulan

24
Ilustrasi / int

LONTAR.id – Cuti bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) laki-laki yang mendampingi istrinya melahirkan bukanlah cuti tersendiri, tetapi merupakan salah satu jenis cuti, yakni cuti karena alasan penting. Berdasarkan Pasal 310 Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PNS), ada tujuh jenis cuti untuk PNS, yaitu cuti tahunan, cuti besar, cuti sakit, cuti melahirkan, cuti karena alasan penting, cuti bersama, dan cuti di luar tanggungan negara.

“Cuti tersebut bukanlah cuti tersendiri semata-mata karena istri melahirkan, tetapi cuti karena alasan penting, yang antara lain dapat diambil untuk mendampingi istri apabila proses kelahirannya betul-betul membutuhkan pendampingan, seperti operasi caesar atau membutuhkan perawatan khusus,” ujar Herman Suryatman, Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Herman Suryatman di Jakarta, Rabu (14/03).

Hal itu dikatakan menanggapi pemberitaan di sebuah media online yang menyatakan perlunya dilakukan pengkajian ulang terhadap kebijakan tersebut. Dalam berita tersebut, Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Apung Widadi menilai cuti satu bulan terlalu lama. “Kebijakan ini perlu ditinjau ulang, harus dicari tahu kenapa keluar angka satu bulan? Menurut kami itu terlalu lama,” ujarnya seperti dikutip detik.com.

Herman lebih lanjut menjelaskan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil, dijelaskan bahwa pemberian cuti karena alasan penting terdiri dari 15 poin. Pada poin 3 berbunyi : “PNS laki-laki yang isterinya melahirkan /operasi caesar dapat diberikan cuti karena alasan penting dengan melampirkan surat keterangan rawat inap dari Unit Pelayanan Kesehatan.”

“Jadi tidak benar bahwa PNS laki-laki bisa begitu saja mengambil cuti sampai 1 bulan apabila istrinya melahirkan, tetapi ada ketentuan yang ketat yakni harus melampirkan surat keterangan rawat inap dari Unit Pelayanan Kesehatan,” kata Herman.

Disebutkan juga bahwa lamanya cuti karena alasan penting ditentukan oleh Pejabat Yang Berwenang Memberikan Cuti, paling lama 1 (satu) bulan dengan mengajukan permintaan secara tertulis. “Pengertian satu bulan itu merupakan waktu paling lama. Tidak selalu satu bulan, tetapi bisa kurang, disesuaikan dengan kondisi objektif dan alasan yang akuntabel,” ujarnya.

Apalagi dengan perkembangan teknologi kedokteran belakangan ini yang memungkinkan orang yang melahirkan dengan operasi caesar bisa sembuh dalam waktu yang lebih cepat. Jadi cuti sampai satu bulan itu hanya untuk kasus-kasus tertentu saja, yang memang betul-betul membutuhkan pendampingan suami.(HUMAS MENPANRB)
Lebih jauh ditambahkannya, pelaku memanjat pagar dan masuk melalui jendela rumah korban. Setelah masuk, pelaku kemudian menuju ke dapur dan mengambil pisau yang digunakan melukai korban.

“Jadi pelaku juga memukul kepala korban menggunakan palu dan membekap wajah korban dengan bantal lalu menikam. Aksi itu ketahuan tetangga korban sehingga pelaku langsung melarikan diri. Pelaku mengambil dompet dan cinci yang terpasang di jari korban,” tambahnya.

Sebelumnya, warga bernama Subehan (21) dikagetkan suara jeritan wanita yang minta tolong, Senin dini hari (12/3/2018) pukul 03.00 Wita. Namun, warga Kampung Benteng Galung, Kelurahan Benteng, Kecamatan Patampanua, Pinrang itu tak langsung menghampiri sumber suara. Dia membangunkan beberapa tetangganya lebih dahulu.

Lalu, bersama beberepa orang, Subehan mendatangi rumah Rasna, sumber teriakan itu berasal. Warga langsung mendobrak pintu untuk segera memberi pertolongan.

Saat pintu terbuka, alangkah kagetnya Subehan dan kawan-kawan. Mereka melihat Rasna dalam posisi berlumuran darah tanpa mengenakan pakaian. Terdapat luka tusuk di bagian kepala.

Warga kemudian membawa korban ke Puskesmas Teppo, Kecamatan Patampanua, Pinrang guna menjalani perawatan medis.(Wan)