Ini 4 Negara yang Berhasil Didamaikan oleh Indonesia

8

LONTAR.id – Sebagai negara yang terletak di Asia Tenggara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ternyata bisa mengembangkan namanya hingga ke kancah internasional.

Indonesia juga tak melulu hanya mengurus bagian wilayah Asia Tenggara saja, melainkan juga turut berperan aktif dalam melakukan upaya perdamaian dunia.

Tanah Air pernah menawarkan tempat untuk pertemuan antara Korea Utara dan Amerika Serikat. Rencana untuk membuat perdamaian konflik Palestina dan Israel juga pernah turut dirundingkan pada Januari 2017 lalu. Dan banyak partisipasi politik lainnya yang dilakukan Indonesia untuk menciptakan perdamaian pada banyak negara.

Tapi, apa kamu penasaran apa saja negara-negara yang berhasil didamaikan oleh Indonesia? Ini dia rangkumannya.

1. Perdamaian di Filipina saat zaman Soeharto

980114-D-9880W-038 Secretary of Defense William Cohen (left) meets with Indonesian President Soeharto at his residence in Jakarta on Jan. 14, 1998.  Cohen is spending two days in Indonesia as part of his 12-day tour of seven Far Eastern nations.  DoD photo by R. D. Ward.
980114-D-9880W-038
Secretary of Defense William Cohen (left) meets with Indonesian President Soeharto at his residence in Jakarta on Jan. 14, 1998. Cohen is spending two days in Indonesia as part of his 12-day tour of seven Far Eastern nations. DoD photo by R. D. Ward.

Perdamaian Filipina berawal pada awal periode 1980-an, saat Presiden Filipina Ferdinand Marcos berusaha mencari dukungan dari negara-negara Timur Tengah dan Indonesia untuk menyelesaikan konflik dengan Bangsa Moro di Mindanau. Saat itu Moro ingin merdeka dan memisahkan diri dari Filipina.

Marcos bertemu dengan Soeharto di Jakarta, meminta penyelesaian soal Moro agar tetap menjadi bagian Filipina. Soeharto menerima permintaan Marcos. Indonesia setuju untuk mendamaikan konflik dengan syarat Bangsa Moro tetap menjadi bagian dari Filipina.

Langkah perdamaian ini diteruskan oleh pengganti Marcos, Presiden Corazon Aquino. Tahun 1989, disepakati otonomi daerah istimewa untuk kawasan Muslim Mindanau. Namun hal itu tak lantas membuat konflik selesai.

23 September 1993, Presiden Fidel Ramos mengunjungi Presiden Soeharto di Jakarta. Kembali meminta bantuan untuk menyelesaikan konflik di Mindanau.

Indonesia kemudian membawa masalah Mindanau ke Forum Menteri Luar Negeri Negara Muslim. Dibentuk Komite Enam, dengan Indonesia sebagai ketuanya.

“Indonesia dipilih karena menjadi negara Muslim terbesar, punya kepemimpinan yang kuat di kawasan ASEAN dan punya pengalaman menengahi konflik di Kamboja.” Demikian ditulis Anak Agung Banyu Perwita dalam buku Indonesia And The Muslim World.

Tak mudah menyelesaikan konflik pemerintah Filipina dengan Bangsa Moro. Indonesia selalu terlibat sebagai fasilitaror. Akhirnya perjanjian damai bisa diteken antara kedua pihak tahun 1996.

2. Konflik perbatasan Thailand dan Kamboja

Tentara Kamboja siaga di Kuil Preah yang berusia 900 tahun, dan menjadi sengketa antara Thailand / sumber : internet

Indonesia sebagai ketua ASEAN menggelar Informal ASEAN Foreign Minister’s Meeting (pertemuan informal para Menlu ASEAN) dengan agenda tunggal pembahasan penyelesaian konflik Thailand dan Kamboja. Konflik kedua negara terjadi di satu kuil kuno di perbatasan kedua negara yang disengketakan.

Dalam pertemuan itu membahas perdamaian Thailand dan Kamboja. Indonesia sebagai mediator tercapai ketika Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mampu mendamaikan kedua negara di PBB pada 14 Februari 2011.

Marty melakukan “shuttle diplomacy” menemui Menlu Kamboja Hor Nam Hong di Phnom Penh dan Menlu Thailand Kasit Piromya di Bangkok untuk mendapatkan informasi dari pihak pertama.

Bersama-sama dengan Menlu Thailand dan Kamboja, Menlu Marty pun ke New York untuk memberikan pertimbangan dan masukan mengenai peran ASEAN dalam menyelesaikan konflik internal di kawasan. Langkah ini terbukti efektif dengan stabilnya kembali wilayah konflik di perbatasan Thailand dan Kamboja.

Menanggapi langkahnya, Menlu Marty mengatakan “sejak awal ia menghindari adanya kevakuman pada tingkat kawasan yang memerlukan intervensi secara langsung oleh DK PBB. Kini, sebaliknya, keterlibatan DK PBB adalah dalam rangka mendukung upaya Indonesia selaku Ketua ASEAN.”

3. Perdamaian Konflik Kamboja dan Vietnam

internet

Pada tahun 1988 sampai 1989, Indonesia pernah menjadi tuan rumah Jakarta Informal Meeting (JIM) untuk menyelesaikan konflik antara Kamboja dan Vietnam. Pada saat itu Indonesia berhasil memfasilitasi dan memediasi kedua negara yang sedang bermusuhan untuk bisa duduk bersama-sama mendiskusikan dan menyelesaikan konflik diantara mereka.

Hasilnya, Vietnam menarik pasukannya dari Kamboja dan situasi damai di Kamboja tercipta.

4. Konflik etnis Rohingya dengan Myanmar

Photo : REUTERS/Mohammad Ponir Hossain. Penduduk etnis Rohingya terpaksa mengungsi setelah pecah konflik lagi di Myanmar / int

Konflik yang masih terjadi hingga menjadi perbincangan luar negeri adalah konflik etnis Rohingya dengan Myanmar. Banyak yang beranggapan bahwa pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi tak banyak berperan dalam menyelesaikan konflik tersebut.

Indonesia turut membantu menyelesaikan masalah ini. Sudah beberapa kali Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengunjungi Myanmar dan Bangladesh untuk membicarakan perdamaian Myanmar dengan Rohingya.

Pada 4 September 2017, Menteri Retno mendesak pemerintah dan otoritas keamanan Myanmar untuk membuka akses masuk bagi pemberian bantuan kemanusiaan untuk mengatasi krisis yang terjadi di Rakhine State.

Salah satu pejabat yang ditemui Menteri Retno adalah Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Senior U Min Aung Hlaing. Menlu menyampaikan bahwa penurunan ketegangan di Rakhine State harus menjadi prioritas pemerintah Myanmar.

Menteri Retno juga bertemu dengan Suu Kyi di Myanmar pada 5 September 2017 untuk membawa amanah dari masyarakat Indonesia dan dunia internasional terkait krisis kemanusiaan yang dialami muslim Rohingya yang mendapat penyiksaan militer Myanmar.

Menlu Retno menyampaikan usulan Indonesia yang disebut Formula 4+1 untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Myanmar. Pertama, mengembalikan stabilitas dan keamanan. Kedua, agar militer Myanmar menahan diri dan tidak menggunakan kekerasan.

Ketiga, mendorong pemerintah Myanmar memberikan perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State tanpa memandang suku dan agama. Keempat, membuka akses untuk bantuan keamanan.

(Sumber: Liputan6.com)