Agus AN: Pontensi Gas di Wajo Harus Didorong Lebih Efisien

49
Agus-Tanribali

MAKASSAR, LONTAR.id – Kandidat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel nomor urut 2, Agus Arifin Nu’mang, punya sejumlah program unggulan untuk lebih memajukan perekonomian Provinsi Sulawei Selatan. Termasuk mendorong potensi gas di Kabupaten Wajo.

Hal itu diungkapkan mantan Ketua DPRD Sulsel ini saat tampil di stasiun telivisi swasta nasional Metro TV dalam program acara ‘Kandidat Bicara’ yang disiarkan live pada Kamis, (17/5/2018).

“Kita perlu mengundang investor untuk mendirikan industri hulu, karena kami punya potensi gas yang bisa dipakai jadi pembangkit listrik supaya lebih evisien. Kedepannya jika saya dan Pak Tanribali diamanahkan memimpin Sulsel itu akan kami kembangkan,” kata mantan Dosen Fakultas Pertanian UNHAS Makassar Tahun 1988–2000 ini.

Agus Arifin Nu’mang – Prabowo Subianto – Tanribali Lamo

Agus pun tak mau memungkiri jika potensi gas di Kabupaten Wajo belum dikelola secara maksimal. Untuk itu, alumni Pasca Sarjana Ekonomi Sumberdaya/Agribisnis (S.2) Tahun 1992 ini berjanji akan mengembangkan potensi gas di Wajo agar bisa lebih menumbuhkan perekonomian Sulsel.

“Disamping itu kita juga punya sumber lainnya untuk meningkatkan PAD. Seperti biji besi, pasir besir dan lainnya. Itu juga bisa kita manfaatkan untuk menambah PAD. Pengalaman saya mendampingi Pak SYL selama 10 tahun jelas menjadi nilai tambah bagi saya dan Pak Tanribali jika Insya Allah terpilih jadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Agus menambahkan jika pihaknya punya 9 program ‘Fokus Tuntas’, termasuk pembangunan jalan yang akan menjadi tumbuh kembangnya perekonomian rakyat.

Lihat Videonya di sini: Agus-Tanribali Bicara 

“Kami punya 9 program fokus tuntas. Termasuk di dalamnya pembangunan jalan. Seperti di Toraja dari Mamasa yang di situ merupakan daerah penghasil kopi. Saya tanya masyarakat kenapa kopinya dibiarkan? Mereka jawab kalau kita panen hasilnya habis untuk transport, karena memang kebun rakyat, padahal kopi di sana harganya cuman Rp56 ribu sementara di Jepang sudah Rp500 ribu. Sehingga kita buka jalan maka kawasan-kawasan seperti itu akan tumbuh,” papar alumni SMA Negeri 1 Makasar Tahun 1982 ini.(*)