Jawaban Menohok Agus-Tanribali Soal Data Ekspos Media dan Sosmed

323
Agus Arifin Nu'mang dan Tanribali Lamo / ist

MAKASSAR, LONTAR.id – Pasangan Kandidat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel nomor urut 2, Agus Arifin Nu’mang – Tanribali Lamo (Agus-Tanribali) tampil di program acara ‘Kandidat Bicara’ yang disiarkan langsung stasiun televisi Metro TV, Kamis (17/8/2018) malam.

Sejumlah pertanyaan dilayangkan oleh para panelis kepada pasangan yang diusung Partai Gerindra, PPP dan PBB in. Termasuk tentang data ekspos media dan media sosial.

“Pak Agus kan sudah menjadi nomor 2 selama 10 tahun terakhir, Pak Tanri juga anak gubernur yang memilih jadi nomor 2. Ada gak sih pengaruh terhadap bapak (Agus) sebagai orang menjadi nomor dua (Wagub) itu terkait dengan strategi komunikasi kepada publik baik di media maupun di media sosial. Dalam data riset kami, ternyata dibanding kandidat lainnya, posisi bapak (Agus-Tanribali) itu paling bawah. Jarang sekali terekspos media, demikian juga di media sosial,” tanya Tika, salah satu panelis.

Untuk sosial media, kata Tika, ada cacatan yang cukup menarik terkait dengan ekspos sosial media. Yakni 52,3 persen yang merespon Agus-Tanribali itu mereka yang berusia di atas 36 tahun.

“Sementara umur 26-35 itu sangat kecil sekira 15 persen, sementara 18 tahun sampai 26 itu juga sangat kecil. Bagaimana sih pendapat bapak terkait dengan media dan media sosial dalam strategi pemenangan di kontestasi pilkada ini,” kata Tika menambahkan pertanyaannya.

Berikut jawaban menohok Agus Arifin Nu’mang

“Jadi memang semua juga bilang begitu, termasuk tim saya dan konsultan politik mengatakan seperti itu. Katanya saya terlalu sabar, gak mau menonjolkan diri. Jadi saya bilang itu memang karakter saya.”

“Saya bekerja di belakang layar, ibarat juru masaka saya-lah yang jadi koki selama ini di Sulsel, yang menata keluar itu gunernur. Karena memang fungsi saya seperti itu. Saya ini anak tentara taat sama komandan.”

“Saya akui itu salah satu kelemahan saya, lambat keluarnya (terekspos). Tapi mudah-mudah setelah kami bicara di sini (Metro TV) masyarakat akan paham kalau sebenarnya yang jadi koki selama ini di Sulsel itu adalah wakil gubernurnya.”

“Peranan media itu luar biasa. Tapi saya objektif saja, apa yang saya lakukan itu yah seperti itu. Mungkin itu salah satu kelemahan yang saya pahami betul bahwa saya telat di situ. Tapi andaikan saya lebih awal (terekspos) mungkin saya tidak bisa langgeng sama Pak Syahrul, tidak ada saya di empat persen itu yang kompak sampai akhir.”

Sementara, Mayjen TNI (purn) Tanribali Lamo, calon Wakil Gubernur Sulsel nomor urut 2,  juga menanggapi pertanyaan panelis perempuan tersebut.

“Kami sadar bahwa kami maju belakangan, bahkan msyarakat berpikir kalau pasangan ini (Agus-Tanribali) tidak akan maju.”

“Tapi setelah kami maju, yang di atas 35 tahun itu punya pemahaman yang lebih realistis kalau kami punya pengalaman punya hal-hal yang bagus.”

“Dari empat pasang di Pilgub Sulsel pasangan kami paling tenang, tidak dengan yang lain-lain mungkin beda. Sehingga ini barangkali yang membuat kami tidak pernah dimunculkan (diekspos), karena kami tidak pernah ikut campur terkait dengan saling sindir sana sling sindir sini dan sebaginya.”

“Jangan Bandingkan Saya dengan Bupati”

Agus Arifin Nu’mang / int

Di kesempatan yang sama, Agus Arifin Nu’mang juga dicecar pertanyaan oleh Silvia Iskandar yang menjadi moderator dalam acara ‘Kandidat Bicara’. Agus diminta memaparkan bagaimana proses kerja jika kelak terpilih jadi Gubernur Sulsel.

“Saya tertarik dengan stagement Pak Agus yang menyatakan lamban panasnya. Jadi kalau misalnya sudah terpilih jadi Gubernur Sulsel, apakah bapak bekerjanya akan seperti apa? Apakah juga akan lamban panasnya, sementara inikan harus bekerja cepat berkejaran dengan waktu yah? Bagamain dengan itu?.”

Menanggapi pertanyaan moderator, Agus Arifin Nu’mang mengatakan jika dirinya merupakan tipe pekerja keras. Menurutnya, pengalamannya menjadi Wakil Gubernur Sulsel selama dua periode mendampingi SYL, adalah modal utama untuk semakin memajukan Provinsi Sulsel yang punya banyak potensi, termasuk pengembangan kawasan.

“Saya ini kan sudah paham, 10 tahun saya sama Pak Syahrul. Ada kadang-kadang ide saya. Tugas saya kan memberi masukan dan saran, persoalan eksekusi itu kewenangan gubernur. Jadi saran-saran saya yang positif untuk rakyat itu saya simpan,” kata mantan Ketua DPRD Sulsel ini.

“Katkanlah konsep pengembangan kawasan, ini baru saya keluarin karnea ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah mantan Gubernur Sulsel Pak Amiruddin yang sudah siapkan pengwilayaan komoditi. Saya paham bahwa pengwilayaan komuditi ini sudah tidak relevan dengan UU yang ada sekarang. Yang perlu adalah pendekatan kawasan sehingga ini satu kawasan 8 kabupaten fungsi provinsi bisa masuk.”

Kecerdasan yang dimiliki mantan Dosen Fakultas Pertanian UNHAS Makasar (1988–2000) ini dari pengalamannya sebagai wakil gubernur 10 tahun dan Ketua DPR Sulsel memang sudah tidak diragukan lagi.

“Saya selalu bilang, kalau mau banding saya liat saya waktu jadi ketua DPRD, waktu itu prestasi puncak saya bisa dibandingkan dengan ketua dpr sebelum dan sesudah saya. Gak bisa saya dibandingkan dengan bupati, bandingkan saya dengan wakil gubernur di provinsi lain,” tandas Sarjana Sosek Pertanian UNHAS (S.1) Tahun 1988 ini.(wan)