Tragedi 1965 dan catatan Jenderal Pranoto

Tragedi 1965
Upaya kudeta di Indonesia pada 30 September 1965, memicu serangkaian peristiwa yang mengarah pada pengusiran Presiden Sukarno dan melepaskan gelombang kekerasan terhadap tersangka komunis

Tragedi 1965 seperti kita ketahui merupakan noda hitam dalam sejarah kemanusiaan Indonesia. Hitam, karena hingga kini masih teka-teki tentang apa dan siapa di balik tragedi itu sesungguhnya. Termasuk juga jumlah korban. Tidak ada catatan yang pasti mengenai jumlah nyawa yang hilang dalam tragedi itu. Taksiran terhadap jumlah koran simpang-siur. Rezim Soeharto mengatakan jumlah yang meninggal hanya sekitar 100 ribu-an orang (lihat Brian May, Indonesian Tragedy). Tapi menurut Permadi, tokoh politik paranormal, pemimpin pembantaian tersebut, Jendral Sarwo Edhie, beberapa waktu sebelum meninggal sempat bercerita bahwa jumlah yang meninggal mencapai 3 juta orang.

Berikut ini adalah catatan ringkas dari almarhum Jenderal (purn) Pranoto Reksosamodra yang meninggal dalam keadaan tragis dan sengsara. Pada bulan oktober 1965 ia sempat ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai carataker Menteri/Pangad (Panglima Angkatan Darat), tapi karena sikapnya yang tidak tegas, jabatan itu di ambil-alih oleh Soeharto. Malah ia kemudian sempat mendekam di penjara selama belasan tahun.

pranoto
Hamengkubuwono IX, Presiden Soekarno,Jenderal Pranoto, Menteri Abdulgani dalam sebuah acara di Markas Komando T&T IV Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Catatan Pranoto memang tidak bercerita banyak, tapi setidaknya dengan interpretasi dan akal sehat kita bisa menarik kesimpulan bagaimana situasi dan kondisi waktu itu. Kita bisa tahu siapa perwira militer yang mengambil keuntungan dari kompleksitas situasi waktu itu.

Catatan Kronologis Sekitar Peristiwa G.30 S/PKI

1. Pada tanggal 1 oktober 1965 kurang lebih jam 06.00 pada saat saya sedang mandi, maka datanglah Brig.Jen Dr. Amino (Ka.Dep. Psychiatri RSGS Jakarta) yang dengan serta-merta memberitahukan tentang diculiknya Let.Jen. A.Yani beserta beberapa Jenderal lainnya oleh sepasukan bersenjata yang belum diketahuinya. Sesudah mandi, maka saya segera berangkat ke MBAD dengan mengenakan pakaian dinas lapangan.

2. Setibanya di MBAD dan setelah menampung beberapa berita dari beberapa sumber , maka oleh karena pada saat itu saya kebetulan sebagai Pati yang berpangkat tersenior, saya segera memprakarsai untuk mengadakan rapat darurat diantara para asisten Men./Pangad atau wakilnya yang hadir pada saat itu di MBAD, yaitu para pejabat teras SUAD dari asisten Men.Pangad sampai asisten VII Men.Pangad termasuk Irjen P.U dan Pejabat Sekretariat. Setelah menampung beberapa laporan dan ke terangan dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, maka rapat menyimpulkan: Secara positif bahwa Let. Jen. A.Yani beserta lima orang Jenderal lainnya telah diculik oleh sepasukan penculik yang pada saat itu belum dapat dikenal secara nyata. Berikutnya, rapat memutuskan untuk menunjuk May.Jen Soeharto Pang.kostrad agar bersedia mengisi pimpinan AD yang terdapat vacuum. Melalui korier khusus, maka keputusan rapat kita sampaikan kepada May.Jen Soeharto di MAKOSTRAD.

3. Pada hari itu juga tanggal 1 Oktober 1965 kurang lebih pukul: 09.00 saya menerima laporan dari MBAD yang mengatakan bahwa menurut siaran RRI saya ditunjuk oleh Presiden/Panglima tertinggi untuk menjabat sebagai carataker Men./Pangad. Oleh karena baru merupakan berita, maka saya tetap tinggal di Pos Komando MBAD untuk menunggu perintah lebih lanjut.

4. Bahwa pada hari itu juga tanggal: 1 Oktober 1965 sesudah saya menerima berita tentang penunjukkan saya untuk menjabat sebagai carataker Men./Pangad, maka berturut-turut datanglah utusan-utusan dari Presiden/Panglima Tertinggi yaitu: Pertama: Let.Kol.Inf. Ali Ebram, Kasi I Staf Resimen Cakrabirawa yang datang kurang lebih pukul: 09.30 Kedua: Brig.Jen. TNI Soetardio, Jaksa Agung, bersama Brig.Jen. Soenarjo, Ka.Reserse Pusat .Kejaksaan Agung yang datang bersama pada jam: 10.00 (kurang-lebih) Ketiga: Kolonel Bambang Wijarnako, Ajudan Presiden/Pangti yang datang sekitar jam: 12.00. Oleh karena saya sudah terlanjur masuk dalam hubungan komando taktis dibawah May.Jen. Soeharto (vide titik 2 di atas), maka saya tidak dapat secara langsung menghadap dengan tanpa seizin May.Jen. Soeharto sebagai pengganti Pimpinan AD saat itu. Atas dasar panggilan dari utusan-utusan tersebut di atas, sayapun berusaha mendapatkan izin dari May.Jen Soeharto. Akan tetapi May.Jen Soeharto selalu melarangnya saya untuk menghadap Presiden/Pangti dengan alasan bahwa dia (May.Jen. Soeharto) tidak berani mereskir kemungkinan tambahnya Jenderal lagi apabila dalam keadaan yang sekalut itu saya pergi menghadap Presiden. Saya tetap menaati perintahnya untuk tinggal di MBAD.

5. Pada malam hari berikutnya, yaitu pada tanggal 1 Oktober 1965 kurang lebih pukul: 19.00 saya dipanggil rapat oleh Jenderal Nasution, KSAB di Markas KOSTRAD untuk menghadiri rapat. Kecuali Jenderal Nasution yang hadir, juga dihadiri oleh May.Jen Soeharto, May.Jen Moersyid, May.Jen Satari dan Brig.Jen Oemar Wirahadikusumah. Jenderal Nasution secara resmi menjelaskan, bahwa saya mulai ini hari ditunjuk oleh Presiden/Pangti untuk menjabat sebagai carataker Men./Pangad, yang selanjutnya menanyakan kepada saya bagaimana pendapat saya secara pribadi. Saya menjawab, bahwa sampai saat itu saya sendiri belumlah menerima pengangkatan secara resmi secara hitam di atas putih. Maka saya berpendapat agar sementara waktu belum dikeluarkannya pengangkatan resmi (tertulis) dari Presiden/Pangti entah nantinya kepada siapa di antara kita, lebih baik kita menaruh perhatian kita dalam usaha menertibkan kembali keadaan yang darurat pada itu yang ditangani langsung oleh Pang.Kostrad (May.Jen Soeharto) yang juga kita percayakan untuk sementara menggantikan pimpinan AD. Akan tetapi mengingat pada saat itu suara dan kesan dari media massa yang memuat berita-berita adanya usaha untuk menentang keputusan Presiden/Pangti tentang penunjukkan saya sebagai carataker Men./Pangad. Maka oleh Jenderal Nasution saya diminta agar pada tanggal 2 Oktober 1965 pagi mengadakan wawancara pers yang direncanakan di Senayan. Saya bersedia.

6. Tanggal 2 Oktober 1965, menjelang waktu saya akan mengadakan wawancara pers, maka tiba-tiba May.Jen Soeharto dan saya mendapatkan panggilan dari Presiden/Pangti yang pada saat itu sudah meninggalkan pangkalan udara Halim Perdana Kusumah dan menempati kembali di Istana Bogor. Oleh karena itu, maka wawancara pers saya tunda waktunya. May.Jen Soeharto bersama saya dan Brig.Jen Soedirgo (DanPomad) segera berangkat menghadap Presiden/Pangti di istana Bogor. Di istana Bogor diadakan rapat di mana hadir pula Bpk. Leimena, Bpk. Chaerul Saleh, Martadinata, Omardani, Cipto Yudodiharjo, Moersyid, M.Yusuf, dan beberapa menteri lagi. Keputusan rapat: Presiden/Pangti memutuskan, bahwa pimpinan AD langsung dipegang oleh Pangti, sedangkan May.Jen Soeharto diperintahkan untuk menjalani tugas operasi militer, kemudian kepada saya ditugaskan sebagai carataker Men./Pangad dalam urusan sehari-hari (Daily Duty).

7. Tanggal 14 Oktober 1965, setelah melalui macam-macam proses kejadian, maka May.Jen Soeharto diangkat menjadi kepala staf AD dengan membentuk susunan stafnya yang baru. Kedudukan saya menjadi Pati diperbantukan kepada KASAD.

8. Tanggal 16 Februari 1966 atas perintah KASAD May.Jen Soeharto saya ditahan di Blok P Kebayoran Baru Jakarta dengan tuduhan terlibat dalam G.30 S/PKI, dengan surat perintah penangkapan/penahanan No. 37/2/1966, tanggal 16 Februari 1966.

9. Dengan perubahan status penahanan dari Ketua Team Pemeriksa Pusat, tersebut dalam surat Perintahnya No.Print. 018/TP/3/1966 saya mendapatkan perobahan penahanan rumah mulai pada tanggal 7 Maret 1966.

10. Dengan surat Perintah Penangkapan/Penahanan No.Print. 212/TP/I/1969, tanggal 4 Maret 1969 saya kembali ditahan di Inrehab NIRBAYA Jakarta yang tetap dalam tuduhan yang sama.

11. Dengan Surat Keputusan Menteri HANKAM/Panglima ABRI yang tersebut dalam Surat Keputusam No.Kep./E/645/II/1970, tanggal 20 Nopember 1970 yang ditandatangai oleh Jenderal M.Panggabean saya mulai dikenakan schorsing dalam status sebagai anggota AD, yang berikutnya pada bulan Januari 1975 saya sudah tidak menerima gaji schorsing dan hak penerimaan lainnya lagi. Sedangkan Surat Pemberhentian ataupun pemecatan secara resmi dari keanggotaan inipun sampai sekarang belum/tidak pernah saya terimakan.

 12. Atas dasar Surat Keptusan Panglima KOPKAMTIB yang tersebut dalam surat No.S KEP/04/KOPKAM/I/1981, maka dalam pelaksanaannya oleh KA.TEPERPU tersebut dalam surat perintahnya No.SPRIN,-481/II/1981 TEPERPU, saya baru dibebaskan dari tahanan pada tanggal 16 Februari 1981. Menjadi kalau saya perhatikan tanggal, bulan dan tahun mulai dan berakhirnya saya mengalami penahanan adalah selama waktu 15 (lima belas) tahun, tanpa kurang ataupun lebih, yaitu dari tanggal 16 Februari 1966 sampai pada tanggal 16 Februari 1981.

13. Selama waktu saya ditahan sepanjang waktu limabelas tahun itu, saya merasa belum pernah mengalami pemeriksaan melalui proses dan pembuatan berita acara yang resmi. Saya hanya mengalami interogasi secara lisan semata yang dilakukan oleh Team Pemeriksa dari TEPERPU pada tahun 1970 yang sesudah itu tidak pernah di interogasi lagi sampai saatnya saya dibebaskan pada 16 Februari 1981.

14. Untuk waktu berikutnya, maka apa, di mana dan bagaimana yang dapat saya perbuat/lakukan sebagai seorang yang tanpa berstatus, polos selagi telanjang, tanpa hak milik materi barang sedikitpun yang bernilai yang memungkinkan untuk melanjutkan amal-kebaktian saya pada Tanah Air dan Bangsa yang pernah saya rintiskan dalam turut serta mulai Perang Kemerdekaan 1945 yang tanpa absen itu? Segala penjuru lapang kerja tertutup untuk kehadiranku, justru aku dipandang sebagai orang yang beratribut bekas tahanan G.30 S/PKI, bahkan mungkin menurut persepsi mereka, saya ini sebagai “dedengkot”nya G.30 S/PKI dari segala aspek. Saya harus berani menelan pil yang sepahit ini dan harus pula berani membaca kenyataan dalam hidup dan penghidupan saya yang telah menjadi suratan dan takdir Illahi kepada saya sebagai umatnya. Manusia tak kuasa mengelak dari segala apa yang telah dikehendakKAN dan digarisKAN, justru DIA-lah sebagai SANG MAHA DALANG yang memperagakan umatnya sebagai anak-anak wayang di pentas pakeliran kehidupan dunia ini. Saya harus mengetahui diri, tempat, di saat dan dalam keadaan apa dan bagaimana saya ini. Saya harus dapat menguasai dan membunuh waktu, betapapun kegiatan saya sehari-hari itu saya utamakan lebih dahulu demi kepentingan rumah tangga dan keluarga yang masih tersisa di rumah. Terus terang saja kalau saya merasa malas dan enggan untuk berkunjung dan berkomunikasi dengan bekas rekan perjuangan, teman ataupun kenalan yang dahulu saya anggap dekat/akrab, justru bagi mereka yang tidak mengetahui ujung-pangkal tiada setapakpun mau maju mendekat dan bertatap muka secara dari hati kehati. Kebanyakan lalu pergi menyelinap dan menghindar yang mungkin ada merasa takut disorot yang akibatnya dapat merugikan diri. Namun tidak sedikit pula bekas rekan-rekan seperjuangan dan teman/kenalan yang masih sudi berkunjung ke rumah saya sekarang ini di pinggiran kota. Di antaranya saya merasa terkesan dengan kunjungan Let.Jen (P) Soedirman anggota Dewan Per timbangan Agung yang pada suatu malam buta berkenan meluangkan kakinya mengunjungi saya di rumah Kramatjati yang sesempit itu. Saat pertama bersuanya kembali dengan saya, sedikitpun saya tidak melihat adanya perubahan wajah sebagaimana wajah cerah, amikal selagi sikapnya yang brotherly/fatherly sebagaimana yang mula-mula saya mengenal sebagai rekan Komandan Resimen yang tersenior. Beliau mengutamakan rasa kemanusiaannya daripada rasa sebagai perwira tingginya. Beliau terkenal rajin berkunjung kepada keluarga anak buah yang suaminya sedang mengalami penahanan ataupun yang ditinggal bertugas operasi oleh suaminya. Beliau pun tidak ada rasa ragu mengunjungi bekas bawahannya yang berada dalam tahanan. Toleransi terhadap penderitaan teman ataupun anak buah bagi beliau tidak pernah menutup mata dan telinga, lepas dari persoalan ataupun perkara yang sedang mereka pertanggung jawabkan masing-masing. Sikap yang layak terpuji dan dihargai oleh khayalak orang timur kalau orang itu dapat berteladan pada panutan sikap dan sifat sebagaimana yang dimiliki Let.Jen (P) Soedirman itu. Maka kunjungan yang semacam itulah yang selalu dapat membasahi, ibarat embun yang menyiram hati saya.

–Editor: Tim Litbang Lontar