Jakarta, Lontar.id – Jika ada mencari di mana tempat berkumpulnya orang-orang Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jakarta, maka Phoenam Coffe Shop adalah salah satunya. Phoenam adalah nama warkop yang telah melegenda di Sulsel. Cabangnya di Ibu Kota terletak di Jl. Wahid Hasyim, Nomor 12, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.
Kesan pertama bagi pengunjung yang pertama kali menginjakkan kaki di Phoenam adalah logat khas Bugis-Makassar. Ya, di warkop inilah kebanyakan perantau asal Sulsel dari beragam profesi akan berkumpul bersama. Mulai dari kalangan Pejabat, Pengacara, Pengusaha, Pegawai Kementerian/Lembaga, Wartawan, Mahasiswa, hingga para pencari kerja akan sering dijumpai di Phoenam.
Baca Juga: Mengapa Mitos Soal Syekh Yusuf Terus Mengalun di Makassar?
Maka tak heran beberapa orang menjuluki warkop ini adalah ‘Sulsel Mini’. Salah satu pengunjung tetap Phoenam adalah Soepriadi SH. Pria yang berprofesi sebagai advokat ini mengatakan, berada di Ibu Kota sebagai seorang perantau membuatnya tetap tak bisa lupa dengan kampung halaman.
“Karena ngopi di phoenam sudah serasa berada di kampung halaman,” ujarnya kepada Lontar.id, Minggu (17/2/2019).
Salah satu ciri kopi di warkop Phoenam adalah busa kopinya yang khas. Soal cita rasa kopi juga akan sama dengan warkop Phoenam di Kota Makassar serta cabang lainnya. Kue khas ‘kanre jawa’ serta beberapa kuliner khas Makassar juga banyak tersaji di sini.

Phoenam Wahid Hasyim menggunakan dua lantai untuk kenyamanan para pengunjungnya.
Baca Juga:Asal-Usul Orang-Orang Bugis di Batavia
Wapres Jusuf Kalla (JK) pada kegiatan jalan sehat Kerukunan Keluarga Sulsel (KKSS) beberapa waktu lalu, pernah menyebut masyarakat Bugis-Makassar banyak tersebar di Ibu Kota. Dari tingkatan bawah hingga istana mereka ada.
“Memang di mana-mana Bugis-Makassar selalu ada, setidak-tidaknya di Jakarta ini ada Kecamatan Makassar. Kalau di daerah lain ada kampung Bugis, ini kecamatan lebih tinggi daripada kampung bugis,” ujar Wapres JK saat memberikan sambutan di hadapan ribuan peserta jalan sehat KKSS, di Silang Monas, Minggu (25/3/2018) lalu.
Kata Soepriyadi, di Phoenam inilah salah satu lokasi silaturahmi orang Bugis-Makassar. Tak peduli perbedaan profesi, semua menyatu dalam komunikasi yang sama. Sarana lain pemersatu mereka adalah permainan domino gaple.
Baca Juga: Gubernur Baru Jatim dengan Nama Sulsel yang Melekat
Lokasi permainan domino ini terletak di bagian luar warkop Phoenam.

Cukup dengan memesan segelas kopi atau roti selai bakar, maka pengunjung akan mudah membaur dan berkompetisi dalam permainan domino.
“Hanya di warung kopi Makassar, kafe Phoenam Jakarta, para lelaki bisa datang dan memesan segelas kopi, setangkup roti bakar berlapis selai, lalu beranjak ke samping untuk menuntaskan hasrat bertarung dan bersekutu dalam permainan domino gaple,” tulis mantan Wartawan Tempo, Tomi Lebang pada status facebooknya 2016 lalu.
Sejarah Phoenam
Pada sebuah catatan di dinding warkop Phoenam, sejarah warkop yang berdiri di Makassar sejak 1946 ini dijelaskan singkat oleh sang pemilik. Catatan tersebut berada tepat di belakang meja kasir. Phoenam telah dilanjutkan oleh beberapa generasi. Generasi pelanjut Phoenam saat ini adalah Albert.
Baca Juga: Toraja yang Mati dan Hidup Berkali-Kali
Albert akan mudah ditemui di Warkop Phoenam Wahid Haysim. Nama Phoenam sendiri berasal dari bahasa Mandarin Kopithiam Phoe Nam.

Kopithiam berarti kedai atau warkop, sedangkan Phoe Nam merujuk pada awal berdirinya yakni, Terminal Selatan atau Transit di Selatan.
“Tersebutlah satu warung kopi didirikan oleh Lion Thay Hiong yang berkongsi dengan dia punya saudara, Pof. Dr. Thay Phen Liong Tahun 1946 di Makassar dengan merk Phoenam yang artinya tempat persinggahan selatan. Warung ini kemudian mashur dan dikenal seantero Makassar,” tulis catatan sejarah Warkop Phoenam yang masih menggunakan bahasa melayu kental.
Kemudian warkop Phoenam diwariskan oleh generasi selanjutnya yakni, anak dari Liong, Albert Liongadi. Yang kemudian diteruskan lagi oleh keturunan selanjutnya yang merupakan generasi ketiga yakni, Bonny Liongadi.
Baca Juga: Membaca Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis
Cita rasa kopi Phoenam disebut tak ada duanya. Karena terbuat dari biji kopi kualitas terjamin mutunya.

Hal inilah yang membuat warkop Phoenam menjadi kesukaan warga Kota Makassar hingga cabang Phoenam yang sudah tersebar di beberapa Kota di Indonesia.
“Coba saja dan buktikan. Kenikmatan cita rasa kopi Celebes (Sulawesi) di kedai kopi Phoenam. Aroma dan rasanya tak terlupakan. niscaya tuan dan nyonya akan menghargai,” jelas akhir catatan sejarah Phoenam yang berjudul ‘Phoenam Poenya Tjeritera’.