Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) telah memicu perubahan signifikan dalam dunia pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Para profesor dan dosen kini menghadapi tantangan baru terkait penggunaan AI oleh mahasiswa dalam pengerjaan tugas, yang berpotensi mengurangi orisinalitas dan pemahaman mendalam.
Menanggapi fenomena ini, berbagai institusi pendidikan tinggi mulai mengadaptasi sistem penilaian mereka. Salah satu contohnya datang dari Profesor Matematika di Universitas California (UC) Berkeley, Richards Borcherds. Ia memutuskan untuk menilai tugas mahasiswanya berdasarkan ketepatan waktu pengumpulan, bukan lagi pada keakuratan jawaban.
“AI sekarang dapat menyelesaikan banyak masalah matematika tingkat sarjana, sering kali lebih baik daripada mahasiswa itu sendiri. Hal ini membuat semakin sulit untuk mengetahui apakah solusi tugas tersebut mewakili pemahaman mahasiswa sendiri atau dihasilkan oleh AI,” ungkap Borcherds kepada Newsweek. Ia menambahkan bahwa metode ujian tatap muka masih menjadi cara yang paling efektif untuk mengukur pemahaman mahasiswa secara langsung.
Profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Eric Klopfer, sejalan dengan pandangan tersebut. Menurutnya, makna penugasan mahasiswa telah berubah. Jika dahulu tugas berfungsi sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman materi dan alat evaluasi bagi pengajar, kini AI telah mengikis tujuan tersebut.
“Saat ini, setidaknya bagi sebagian siswa, tugas bukan lagi evaluasi yang valid atas pembelajaran mereka,” ujar Klopfer. Ia menekankan pentingnya kesetaraan pemahaman antara dosen dan mahasiswa, di mana dosen percaya pada kemampuan mahasiswa untuk bertanggung jawab atas tugas, dan mahasiswa mampu memahami materi tanpa bergantung pada alat bantu seperti AI.
MIT sendiri telah mengeluarkan laporan tahunan pada 2026 dari Komite Ad Hoc mengenai penggunaan AI dalam pengajaran, pembelajaran, dan pelatihan penelitian. Laporan tersebut mengimbau para dosen untuk mengubah proses pengajaran dan penilaian agar lebih adaptif terhadap perkembangan AI.
Sebagai respons, banyak kampus di AS mulai mengadopsi metode ujian lisan atau tatap muka untuk meminimalkan potensi penyalahgunaan AI. Universitas Cornell, misalnya, mengumumkan bahwa penilaian lisan dapat dikombinasikan dengan tugas tertulis, proyek, atau kumpulan soal. Pilihan metode mencakup ujian lisan, sesi tanya jawab, presentasi, permainan peran, debat, hingga demonstrasi.
Profesor madya Emily Hammer dari Universitas Pennsylvania menerapkan ujian gabungan, yaitu lisan dan makalah tertulis di kelas. Langkah ini diambil bukan semata untuk mencegah kecurangan, tetapi juga karena kekhawatiran hilangnya keterampilan, kapasitas kognitif, dan kreativitas mahasiswa.
Sementara itu, MIT merekomendasikan agar setiap kelas secara eksplisit menyatakan kebijakan mengenai penggunaan AI, termasuk batasan dan alasannya. Meskipun belum ada aturan serentak yang berlaku di seluruh kampus, para dosen diberikan keleluasaan untuk menyesuaikan pendekatan penilaian dengan karakteristik masing-masing mata kuliah.
Intinya, solusi yang ditawarkan bukan untuk menghentikan penggunaan AI, melainkan untuk merancang sistem penilaian yang tetap objektif dalam mengukur pemahaman dan perkembangan mahasiswa secara otentik.
Komentar