BALI – Konferensi internasional QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 resmi dibuka di Bali International Convention Centre, Selasa (3/11/2026), menandai gelaran perdana di Indonesia. Acara yang berlangsung hingga 5 November ini merupakan wadah pertemuan bagi para pemimpin pendidikan tinggi, pemerintah, dan industri di kawasan Asia Pasifik.
Diselenggarakan oleh Binus University sebagai host, bersama Universitas Padjadjaran dan The Education University of Hong Kong sebagai co-host, konferensi ini merupakan agenda utama dari QS Quacquarelli Symonds, sebuah organisasi global yang dikenal melalui pemeringkatan perguruan tinggi, konferensi, riset, dan analisis.
Lebih dari 1.000 pemimpin dari ratusan universitas di 31 negara berkumpul di Bali untuk berpartisipasi dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026. CEO QS Quacquarelli Symonds, Jessica Turner, menjelaskan bahwa tema “Advancing Education for Purpose and Impact” akan menjadi fokus utama diskusi.
“Kami membahas perubahan dan pemajuan pembelajaran, riset, serta kerja para akademisi dan staf kampus secara keseluruhan imbas teknologi,” ujar Turner. Ia menambahkan, konferensi ini juga akan mengeksplorasi tantangan perguruan tinggi dalam membuktikan kualitas dan dampak, serta opsi studi di tengah perubahan ekspektasi pelajar dan munculnya alternatif selain pendidikan tinggi.
Jessica Turner menyoroti pertumbuhan pesat pendidikan tinggi, riset, dan inovasi di Asia Pasifik yang menjadikan kawasan ini berperan penting di kancah global. “Ini memicu peluang untuk memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berdampak pada semua orang, termasuk anak muda,” katanya.
Sesi konferensi dan pameran dirancang untuk membantu perguruan tinggi meningkatkan reputasi, mengembangkan kemitraan di Asia Pasifik, mendapatkan wawasan tentang peluang riset-inovasi dan komersialisasi karya kampus, serta menarik pelajar internasional berkualitas.
“Kita mendiskusikan internasionalisasi, riset dan inovasi, employability, transformasi teknologi, sustainability, perubahan peran universitas dalam mendorong roda ekonomi dan sosial. Ini juga peluang bertukar ide, belajar dari berbagai perspektif yang kita bawa dari kelompok besar ini beserta kepakaran masing-masing,” imbuh Turner.
CEO Bina Nusantara, Bernard Gunawan, menggarisbawahi partisipasi Indonesia dalam pertumbuhan pendidikan tinggi di Asia Pasifik. Ia mengutip data UNESCO yang menunjukkan bahwa dari 269 juta pendaftar pendidikan tinggi global pada 2024, sekitar 137 juta berasal dari Asia Timur, Tenggara, dan Selatan pada 2022. Indonesia sendiri diproyeksikan memiliki 10 juta pelajar yang masuk perguruan tinggi pada 2025.
“Pertanyaannya, bagaimana kita memastikan bahwa pendidikan menciptakan tujuan dan dampak yang lebih besar bagi para pembelajar kita, komunitas kita, dan masyarakat, di tengah dunia yang bertransformasi karena teknologi,” ucap Gunawan.
Rektor Universitas Padjadjaran, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menambahkan bahwa konferensi ini juga menyoroti tantangan kawasan Asia Pasifik dalam menghadapi perubahan iklim, isu kesehatan masyarakat, kesenjangan, dan transformasi teknologi.
“Untuk membahas tantangan ini, universitas perlu bekerja sangat erat dengan pemerintah, industri, komunitas, dan satu sama lain. Masa depan perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada seberapa baik kampus berkompetisi, tetapi pada seberapa efektif mereka berkolaborasi,” ujar Arief. Ia menekankan bahwa kolaborasi dapat mentransformasi pengetahuan menjadi solusi praktis dan membuka peluang pembangunan berkelanjutan.
President and Chair Professor of Curriculum and Instruction at The Education University of Hong Kong (EdUHK), John Lee Chi-Kin, turut menekankan pentingnya kolaborasi. “Kami beruntung dapat berkesempatan dengan mitra pemerintah, universitas, sekolah, NGO, dan komunitas, mulai dari Indonesia, Brunei Darussalam, Pakistan, dan lainnya. Kolaborasi ini mendorong riset pengembangan pendidikan, pengembangan teacher-professor, penumbuhan talenta, dan pertukaran pengetahuan,” jelasnya.
Chi-Kin menambahkan, kolaborasi lintas batas, budaya, dan disiplin membuka peluang untuk saling belajar dan membangun hubungan yang lebih kuat.
Komentar