Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan terus meningkat. Meskipun AI dapat memberikan dukungan dalam proses pembelajaran, teknologi ini dinilai tidak seharusnya mengambil alih peran guru maupun menjadi satu-satunya sumber pengetahuan bagi siswa.
Dr. Ella Yulaelawat, Penasihat Sekolah Enuma Indonesia, menekankan bahwa AI sebaiknya difungsikan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai sumber pengetahuan utama. AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta berbagai kebutuhan lain di luar inti proses pedagogi atau ilmu dan praktik pengajaran.
“AI bisa dimanfaatkan untuk pengembangan kapasitas SDM atau hal lain di luar inti proses pedagogi. Seperti kurikulum pada dasarnya hanyalah dokumen di atas kertas, yang terpenting adalah seni mengajar dari seorang guru,” ujar Ella saat ditemui di Jakarta pada Selasa (3/11/2026), usai acara Diseminasi Hasil Studi Ekosistem Pembelajaran Digital.
Ella, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengingatkan bahwa akurasi hasil yang diberikan AI tidak selalu terjamin. Teknologi ini bekerja dengan mengolah informasi dari basis data yang ada, termasuk yang bersumber dari internet.
“Jika ada pihak yang aktif di dunia nyata tetapi tidak aktif menyuplai data ke digital, data mereka tidak akan terbaca oleh AI,” jelasnya. Oleh karena itu, Enuma sangat berhati-hati dalam penggunaan AI, tidak hanya sekadar mengikuti tren, dan selalu memperhatikan regulasi pemerintah.
Gawai untuk Tingkatkan Literasi dan Numerasi
Lebih lanjut, Ella menjelaskan bahwa pengembangan pembelajaran digital Enuma tidak berfokus pada penggunaan AI. Fokus utamanya adalah membantu anak-anak memanfaatkan perangkat digital secara produktif untuk mendukung kegiatan belajar mereka.
Menurutnya, penggunaan gawai sudah sangat melekat dalam kehidupan anak-anak. Jumlah perangkat digital yang beredar bahkan diperkirakan melampaui jumlah penduduk. Anak-anak pun sudah terbiasa menggunakan gawai, baik yang sudah bisa membaca maupun yang belum.
“Lewat Enuma, kita mengarahkan penggunaan gawai tersebut untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi anak,” katanya.
Selama lima tahun terakhir, Enuma Indonesia telah digunakan oleh sekitar 36.000 siswa di 844 sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Platform ini menyediakan materi pembelajaran digital yang mencakup tiga mata pelajaran: Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris.
Seluruh fitur dan konten pada platform dikembangkan dengan pendekatan gamifikasi agar proses belajar menjadi menyenangkan bagi anak-anak. “Jika dibandingkan dengan penyedia konten lain, keunggulan Enuma terletak pada pendekatan gamifikasi agar proses belajar anak menyenangkan, serta aplikasi ini dapat diakses secara luring (offline) tanpa koneksi internet. Hal ini sangat membantu sekolah-sekolah di wilayah 3T,” kata Direktur Enuma, Juli Adrian.
Juli menambahkan bahwa pihaknya menyarankan penggunaan Sekolah Enuma maksimal tiga kali seminggu, dengan durasi satu kali penggunaan untuk menyelesaikan satu mata pelajaran. “Hasil temuan studi menunjukkan rata-rata screen time anak sekitar 1,7 jam. Kami juga tidak ingin anak-anak terlalu berlebihan menghabiskan waktu di depan layar,” tuturnya.
Komentar