Universitas Indonesia Unggul di Reputasi Akademik Asia, Namun Kinerja Riset Tertinggal

Sebanyak 115 universitas Indonesia masuk QS WUR Asia 2027. Reputasi akademik dan pertukaran mahasiswa RI di atas rata-rata, namun sitasi per paper menurun drastis.

Universitas Indonesia Unggul di Reputasi Akademik Asia, Namun Kinerja Riset Tertinggal
Country Spotlight: Indonesia, Selasa (3/11) dalam rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026. Foto: Trisna Wulandari/detikcom

JAKARTA – Sebanyak 115 perguruan tinggi di Indonesia berhasil masuk dalam pemeringkatan QS World University Rankings: Asia 2027, yang tahun ini mencakup 1.720 perguruan tinggi dari seluruh Asia. Dalam pemeringkatan tersebut, kampus-kampus Indonesia menunjukkan keunggulan di atas rata-rata regional Asia pada tiga indikator utama: reputasi akademik, rasio pertukaran mahasiswa inbound, dan rasio pertukaran mahasiswa outbound.

Product and Research Advisor QS Quacquarelly Symonds, Wesley da Silva Sequeira, mengungkapkan bahwa 36 persen kampus di Indonesia mengalami peningkatan pada indikator reputasi akademik dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Hal ini menunjukkan pengakuan yang semakin meningkat dari sesama akademisi di Asia terhadap perguruan tinggi di Indonesia.

“36 persen di antaranya meningkat dalam reputasi akademik. Ada lebih banyak perguruan tinggi di Indonesia yang, dibandingkan dengan edisi sebelumnya, mereka benar-benar lebih diakui oleh rekan akademisi sejawat di QS Global Academic Surveys,” ujar Sequeira dalam sesi Country Spotlight: Indonesia, yang merupakan bagian dari rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali.

Sequeira menambahkan bahwa rasio mahasiswa pertukaran inbound untuk Indonesia merupakan yang tertinggi di antara indikator lainnya. Kinerja ini tidak hanya berada di atas rata-rata regional, tetapi juga jauh melampaui negara-negara seperti Jepang, Tiongkok Daratan, dan India.

Meskipun demikian, kinerja perguruan tinggi di Indonesia secara keseluruhan masih berada di bawah rata-rata Asia Tenggara pada semua indikator QS WUR: Asia 2027. Indikator tersebut meliputi reputasi akademik, sitasi per paper, jumlah paper per pengajar, reputasi di kalangan pemberi kerja, rasio pengajar:mahasiswa, staf dengan gelar PhD, rasio pengajar asing, jejaring riset internasional, rasio mahasiswa asing, serta rasio pertukaran mahasiswa inbound dan outbound.

Sebagai perbandingan, Malaysia unggul dari rata-rata Asia Tenggara pada semua indikator. Sementara itu, Vietnam unggul pada indikator sitasi per paper, reputasi di kalangan pemberi kerja, dan jejaring riset internasional. Thailand menunjukkan keunggulan pada reputasi akademik, staf dengan gelar PhD, jejaring riset internasional, rasio mahasiswa asing, serta rasio pertukaran mahasiswa inbound. Filipina sendiri unggul dalam indikator reputasi di kalangan pemberi kerja.

“Jadi mungkin persaingannya lebih ketat di antara sesama negara Asia Tenggara, daripada di tingkat regional (Asia),” tutur Sequeira.

Lebih lanjut, analisis QS juga menemukan bahwa sebanyak 98 persen perguruan tinggi di Indonesia mengalami penurunan kinerja pada indikator sitasi per paper. Temuan ini sejalan dengan hasil QS World University Rankings (WUR) 2027 yang dirilis Juni 2026, di mana 20 kampus RI memiliki capaian terendah pada indikator jumlah sitasi per faculty, dengan rata-rata skor hanya 2,6.

“Kita benar-benar bisa mulai memikirkan kesenjangan antara publikasi penelitian, dan bagaimana visibilitas serta sitasi tersebut berperan bagi perguruan tinggi tersebut,” jelas Sequeira.

Country Spotlight: Indonesia merupakan bagian dari QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 yang diselenggarakan di Bali pada 3-5 November 2026. Konferensi ini dipandu oleh Binus University sebagai host, didukung oleh Universitas Padjadjaran (Unpad) dan The Education University of Hong Kong (EduHK) sebagai co-host.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *