Pakar Pendidikan Usulkan Perombakan Sistem SKS dan KRS dengan Bantuan AI

Seorang pakar pendidikan menyoroti kekakuan sistem SKS dan KRS di perguruan tinggi, mengusulkan integrasi AI untuk personalisasi pembelajaran dan efisiensi.

Pakar Pendidikan Usulkan Perombakan Sistem SKS dan KRS dengan Bantuan AI
Prof Harjanto Prabowo pada rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre, Bali, Rabu (4/11). Foto: Dok Binus University

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kampus seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan tuntutan masyarakat dan industri. Namun, sistem satuan kredit semester (SKS) dan mekanisme pengisian kartu rencana studi (KRS) manual justru dinilai menghambat dan menyulitkan mahasiswa.

Pandangan ini disampaikan oleh Prof Dr Ir Harjanto Prabowo, yang menjabat sebagai Binus Higher Education & Professional Service dan sebelumnya Rektor Binus University periode 2009-2023. Pernyataan tersebut diungkapkannya dalam diskusi “Leading Universities in the Age of AI: Technology, Governance, and Leadership for the Future” yang merupakan bagian dari rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre, Bali, Rabu (4/11).

Harjanto menekankan bahwa perguruan tinggi saat ini terlalu fokus pada integrasi AI tanpa mendesain ulang sistem dan pola pikir dasar yang menopangnya. Ia secara spesifik mengkritisi kekakuan aturan SKS.

“Siapa yang bisa menjelaskan bahwa mata kuliah dengan satuan SKS sekian minggu, sekian jam itu benar di situasi sekarang? Atas alasan apa itu benar dengan situasi sekarang?” ujar Guru Besar Tetap Binus University bidang Manajemen Sistem Informasi itu.

Ia menambahkan bahwa meskipun ada pandangan bahwa mahasiswa membutuhkan satu semester penuh untuk mendalami suatu ilmu, riset lain menunjukkan bahwa cara belajar individu kini sangat bervariasi. “Riset membuktikan cara orang belajar pun sekarang lompat-lompat, macem-macem. Jadi daripada kita sibuk menanyakan itu, maka kita menggunakan AI, bagaimana AI membantu universitas memberikan personalized learning, misalnya,” jelasnya.

Harjanto memberikan contoh, dengan bantuan AI, sebuah kelas yang terdiri dari 30 mahasiswa dapat memperoleh 30 jalur pembelajaran yang dipersonalisasi. AI tutor juga bisa diakses 24 jam, memungkinkan mahasiswa belajar kapan saja, bahkan di luar jam perkuliahan formal. “Karena student mungkin baru jam 11 malam bangun dan ingin belajar. Dia bisa lebih cepat dari yang lain, kenapa salah gitu. Personalized learning menjadi penting. Itu contoh,” katanya.

KRS dan Registrasi yang Memberatkan

Selain SKS, Harjanto juga mengkritisi rutinitas pengisian KRS setiap awal semester yang dianggapnya memberatkan mahasiswa dan belum tentu sesuai dengan tujuan belajar mereka.

“Kenapa sih mahasiswa harus registrasi? Itu sesuatu yang Binus sudah lupakan 10 tahun yang lalu. Kenapa harus registrasi? Bapak-ibu yang disini ini yang suka ngelola, menyusahkan mahasiswa. Kenapa dia harus membuat perencanaan studi yang akhirnya dia juga enggak tahu merencanakan apa, tapi kita membuat sedemikian alurnya sehingga mahasiswa sebetulnya dia juga nggak perlu itu,” ujarnya.

Integrasi AI, menurutnya, dapat membantu perencanaan studi dengan mempertimbangkan kompetensi yang ingin dicapai mahasiswa. Hal ini bisa mengubah fokus dari sekadar gelar menjadi pencapaian kompetensi. “Maka mahasiswa merasa, ‘saya ingin kompetensi ini, mungkin soal gelar silahkan aja deh, yang penting saya tempuh’. Itu mengubah semuanya. Kalau kita bisa sampai ke tahap itu, maka dosen juga akan berubah. Kan pemain utamanya dosen,” ucap Harjanto.

Ia menilai perombakan sistem di kampus, termasuk pengisian KRS, sangat diperlukan. Integrasi AI ke dalam sistem informasi manajemen dapat membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih prediktif. “Sistem-sistem kita yang dibangun dari ujung ke ujung perlu diganti mungkin. Registrasi mesti diganti. Decision makingnya tidak bisa dengan sistem informasi manajemen biasa kan. Dikasih informasi, kita ngelola. Semuanya bisa predictive, yang dari AI, lalu apa yang bisa dilakukan,” sambungnya.

Langkah ini diyakini akan membuat pendidikan tinggi lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat, pemerintah, dan industri. “Industri maunya kan, selalu dikatakan, kita ‘tidak ready, tidak ikut.’ Itu kita selesaikan, itu relevansinya. Jadi tidak mudah, tapi kalau kita tidak melakukan, kita obsolete (usang) sih. Maka orang sibuk akhirnya (bilang) ‘kuliah tidak penting, yang penting punya keahlian, sertifikat. Nah padahal pendidikan bukan hanya soal kompetensi, soal karakter,” jelasnya.

Mengembalikan Peran Dosen

Jika AI mampu mengambil alih beban administratif, Harjanto berpendapat bahwa dosen akan memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dan berdiskusi dengan mahasiswa, yang esensial dalam pembentukan karakter.

“Dia jadi panutan, begitu. Itu lebih penting. Nah kalau itu ditaruh paling atas, maka orang (saat) pilih kampus akan melihat seberapa baik lulusan ini, seberapa mampu dia beradaptasi. Itu yang harus kita lakukan. Jadi teknologi membuat kita bisa, masalahnya kita mau ke sana atau tidak,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *