JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai dari siswa kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Kebijakan ini bertujuan untuk mengenalkan dasar-dasar bahasa Inggris dan menumbuhkan rasa cinta pada siswa sejak dini, bukan untuk mencapai kemahiran berbahasa secara instan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa fokus utama program ini adalah pengenalan dan penanaman rasa suka terhadap bahasa Inggris. “Titik tekan dari program ini bukanlah pada ekspertis dalam bahasa Inggris bagi anak-anak kita, tetapi lebih kepada mengenalkan dasar-dasar dan juga menumbuhkan rasa cinta untuk anak-anak belajar bahasa Inggris,” ujarnya dalam acara Koordinasi dan Penandatangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Bantuan Pemerintah Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI) di Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2026).
Untuk itu, materi pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa kelas 3 SD akan dirancang dengan prinsip pembelajaran mendalam, yaitu mindful, meaningful, dan joyful. Pendekatan ini akan menghindari pembelajaran yang hanya berfokus pada teori.
“Materi-materinya mungkin nanti akan banyak berupa lagu-lagu atau pemutaran film dan bentuk-bentuk permainan yang menstimulasi anak-anak untuk dapat belajar bahasa Inggris dengan gembira,” tambahnya.
Materi Tidak Terlalu Kaku pada Tata Bahasa
Menteri Mu’ti juga memberikan arahan agar pembelajaran bahasa Inggris tidak terlalu kaku dalam hal tata bahasa (grammar) dan struktur kalimat. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak merasa terbebani selama proses belajar.
“Kami sudah memberikan arahan agar dalam pembelajaran tidak terlalu strict pada grammar, pada structure, yang membuat anak-anak menjadi bosan atau bahkan terbebani dengan model pembelajaran bahasa Inggris yang terlalu akademis,” jelasnya.
Siswa akan didorong untuk aktif menulis dan menyampaikan pendapat menggunakan bahasa Inggris, sehingga diharapkan dapat menggunakan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi dan sarana untuk mengeksplorasi berbagai kemampuan berbahasa.
“Salah grammar tidak apa-apa, namanya juga anak-anak. Bahkan kalau salah ekspresi juga tidak apa-apa. Mungkin istilahnya bahasanya gado-gado, begitu. Yang penting gado-gadonya tidak keliru fatal, kan,” tuturnya.
Ia kembali menekankan pentingnya guru untuk bersikap fleksibel dan menerima setiap kekeliruan yang dibuat oleh siswa. Hal ini bertujuan agar setiap siswa merasa nyaman untuk mempelajari bahasa Inggris dan memiliki kepercayaan diri saat menggunakannya.
“Salah-salah enggak apa-apa, yang penting maksudnya paham, maksudnya paham. Enggak apa-apa, namanya juga anak-anak, yang penting semuanya gembira, semuanya fun, dan mereka memiliki motivasi dan semangat untuk mempelajari bahasa Inggris dan menggunakannya dengan berani, dengan penuh percaya diri,” tegasnya.
Komentar