QS WUR 2027: Kampus RI Naik Peringkat, Pengajar Internasional Meningkat, Sitasi Riset Masih Rendah

Sebanyak 20 perguruan tinggi Indonesia masuk QS WUR 2027. Peningkatan terjadi pada rasio pengajar internasional, namun skor sitasi riset masih menjadi pekerjaan rumah.

QS WUR 2027: Kampus RI Naik Peringkat, Pengajar Internasional Meningkat, Sitasi Riset Masih Rendah
Foto: Trisna Wulandari/detikcom

Sebanyak 20 perguruan tinggi Indonesia berhasil masuk dalam pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) 2027. Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya menempati posisi di Top 500, dan tujuh kampus lainnya dilaporkan mengalami kenaikan peringkat.

Salah satu indikator yang menunjukkan tren positif adalah rasio pengajar internasional. Wesley da Silva Sequeira, Product and Advisor QS Quacquarelly Symonds, mengungkapkan bahwa 60 persen perguruan tinggi di Indonesia menunjukkan peningkatan pada indikator ini. Hal tersebut disampaikannya dalam Country Spotlight: Indonesia yang merupakan bagian dari rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre.

“Jadi terdapat perguruan tinggi terkemuka Indonesia di pemeringkatan ini yang pada dasarnya menarik lebih banyak pengajar internasional, punya lebih banyak talenta dari luar negeri, yang mengajar dan melakukan riset di institusi mereka,” ujar Wesley.

Universitas Indonesia (UI) dilaporkan bertahan di Top 200. Sementara itu, Universitas Brawijaya (UB) menjadi kampus dengan kenaikan peringkat paling signifikan, yaitu melonjak 64 posisi ke peringkat ke-616. Capaian UB ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan skor pada indikator rasio pengajar dengan mahasiswa (faculty-student ratio) dan rasio pengajar internasional (international faculty ratio).

“Dibandingkan dengan pemeringkatan edisi sebelumnya, ada lebih banyak pengajarnya yang tersedia, lebih banyak staf kampus yang tersedia untuk mahasiswa, dan pada saat yang bersamaan, ada lebih banyak pengajar internasional di institusi ini,” jelas Wesley.

Di sisi lain, IPB University mencatatkan peringkat tertinggi di antara universitas Indonesia untuk indikator rasio pengajar dengan mahasiswa, masuk dalam Top 130 global. Untuk indikator keberlanjutan (sustainability), 20 perguruan tinggi Indonesia meraih skor rata-rata tertinggi dengan angka 52,9.

Meskipun ada peningkatan di beberapa area, data QS WUR 2027 menunjukkan bahwa capaian terendah dari 20 perguruan tinggi RI terletak pada indikator sitasi per pengajar (citations per faculty), dengan rata-rata skor hanya 2,6.

Wesley menjelaskan, fokus indikator ini adalah pada sitasi yang diterima oleh pengajar dari publikasi riset mereka, bukan pada keseluruhan produksi ilmiah. “Kita tidak bicara tentang keseluruhan produksi science papers, publikasi akademik dari institusi, tetapi spesifik soal sitasi yang pengajar mereka peroleh dari paper yang dipublikasi. Jadi spesifik soal pengajar memproduksi riset, yang skornya lebih rendah dibandingkan negara lain,” tuturnya.

Selain itu, sebanyak 50 persen atau 10 kampus di Indonesia mengalami penurunan pada indikator reputasi di kalangan pemberi kerja (employer reputation).

“Dibandingkan tahun lalu, mereka memperoleh pengakuan lebih rendah secara global dan secara domestik,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *