JAKARTA – Fenomena baru yang dikenal sebagai ‘internmaxxing’ kini melanda kalangan mahasiswa di Singapura. Tren ini mendorong para mahasiswa untuk mengambil program magang sebanyak dua hingga lima kali selama masa studi mereka demi membangun portofolio yang kuat.
Jasariel Chee, seorang lulusan berusia 24 tahun dari Singapore Management University (SMU) dengan gelar ganda di bidang ilmu politik dan manajemen strategis, mengaku telah mengikuti lima program magang di berbagai bidang, termasuk pembelajaran dan pengembangan, humas, serta komunikasi. Tiga dari lima magang tersebut berfokus pada bidang humas.
“Menurut saya, para pemberi kerja memperlakukan seorang pekerja magang yang tidak berpengalaman dengan lebih baik daripada seorang lulusan yang tidak berpengalaman,” ujar Chee, seperti dikutip dari Business Times.
Chee bahkan rela menunda kelulusannya selama setahun untuk menambah riwayat magangnya. Ia percaya bahwa program magang memungkinkannya untuk mempelajari lebih lanjut tentang berbagai industri, mengembangkan keterampilan interpersonal, dan membangun jaringan profesional yang melampaui pembelajaran di kelas.
Meskipun demikian, pengalaman magang yang banyak tidak serta-merta menjamin Chee mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Ia harus mengirim lusinan lamaran kerja dan melalui tiga tahap wawancara sebelum akhirnya menerima dua tawaran pekerjaan. Saat ini, Chee telah diterima bekerja penuh waktu di bidang komunikasi.
Pengalaman serupa juga dibagikan oleh Dallen Chua, seorang lulusan Nanyang Technology University (NTU). Chua juga telah mengikuti hingga lima program magang selama masa kuliahnya.
“Magang itu penting karena dunia kerja sangat berbeda dari belajar di kampus,” kata lulusan jurusan filsafat tersebut, menilai bahwa pengalaman magang lebih krusial daripada Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Chua mengamati bahwa banyak teman-temannya yang memiliki prestasi akademik cemerlang justru kesulitan mendapatkan pekerjaan karena terlalu fokus pada studi dan minim pengalaman magang. “Beberapa (teman saya) menyadari bahwa sudah terlambat untuk hanya fokus pada studi saja,” ungkapnya.
Persaingan dan Tuntutan Dunia Kerja
Fenomena ‘internmaxxing’ diduga kuat muncul akibat meningkatnya tekanan persaingan di pasar kerja, yang juga dipengaruhi oleh peran pemberi kerja. Hal ini mencerminkan peningkatan tuntutan akan pengalaman kerja dari pihak universitas maupun perusahaan.
Sebuah laporan tahun 2025 mencatat bahwa di antara 865 mahasiswa Universitas Teknologi Nanyang (NTU), mayoritas telah menyelesaikan atau berencana menyelesaikan beberapa program magang: 50,3% mengambil dua hingga tiga magang, 11,4% mengambil empat hingga lima magang, dan 6% mengambil lebih dari lima magang. Lulusan SMU pada tahun 2024 menyelesaikan rata-rata 2,8 magang, naik dari 2,6 pada angkatan 2020.
Survei Kementerian Tenaga Kerja Singapura untuk lowongan pekerjaan tahun 2025 menunjukkan bahwa faktor perekrutan teratas adalah pengalaman kerja yang relevan (48,2%), mengungguli keterampilan dan kemampuan (20,1%) serta kualifikasi akademik (9,4%).
Profesor Madya Walter Theseira, seorang ekonom tenaga kerja dari Universitas Ilmu Sosial Singapura, menjelaskan bahwa peningkatan persaingan dalam beberapa tahun terakhir mendorong banyak mahasiswa untuk mengejar lebih banyak peluang magang. “Magang dan pengalaman kerja sebelumnya hanyalah salah satu cara lulusan memperoleh keterampilan kerja dan menunjukkan kualitas kepada pemberi kerja,” ujarnya.
Universitas juga semakin menekankan pentingnya magang. Di NTU, magang telah menjadi wajib untuk program sarjana sejak 2021, sementara SMU mewajibkan mahasiswa menyelesaikan magang yang bernilai kredit.
“Lulusan kami memasuki pasar yang lebih selektif, di mana para pemberi kerja lebih memperhatikan keterampilan dan pengalaman yang dapat dibuktikan daripada sekadar ijazah,” kata Wakil Presiden dan Rektor NTU, Profesor Christian Wolfrum. Ia menambahkan, “Di luar ruang kelas, program magang menyediakan jembatan penting antara pembelajaran akademis dan praktik profesional.”
Magang sebagai Kesempatan Perusahaan Menjaring Talenta
Dari sudut pandang perusahaan, magang menjadi kesempatan berharga untuk menjaring talenta-talenta calon karyawan berkualitas.
Fred Dura, Kepala Sumber Daya Manusia Asia-Pasifik Millennium Management, menyatakan bahwa program magang di perusahaan hedge fund global tersebut merupakan ‘jalur utama’ bagi talenta muda untuk bergabung. Ia menyebutkan bahwa lebih dari 50 peserta magang bergabung dengan Millennium di kawasan Asia-Pasifik tahun ini, dan sebagian besar peserta magang di Singapura menerima tawaran untuk menjadi karyawan tetap.
Kriteria perusahaan dalam mencari talenta muda juga terus berkembang. “Meskipun prestasi akademik yang kuat dan bidang studi tetap penting, kecerdasan buatan memperluas cakupan kandidat yang dapat direkrut oleh Millennium, khususnya untuk peran non-teknis di mana kecerdasan buatan dapat membantu menjembatani kesenjangan pengetahuan. Namun, hal itu tidak dapat menggantikan ‘kemampuan pemecahan masalah yang kuat, pemikiran kritis, dan kreativitas’,” tambah Dura.
Perusahaan manufaktur Frencken juga memanfaatkan program magang sebagai jalur perekrutan. “Perusahaan menilai apakah seorang peserta magang berpotensi menjadi karyawan tetap, memantau kandidat yang menjanjikan setelah masa magang mereka, dan mungkin merekrut mereka setelah lulus,” kata Presiden Frencken, Dennis Au.
Di DBS, CEO Tan Su Shan pernah mengatakan bahwa ia lebih suka merekrut talenta ke bank sebelum mereka lulus kuliah. “Semua orang tampil baik dalam wawancara, jadi sangat sulit untuk menentukannya, dan sikap hanya akan terlihat ketika Anda mulai bekerja bersama,” kata Shan, seraya menambahkan bahwa banknya akan mengadakan lebih banyak program magang.
Komentar