Profesor Jerman Dicatut Namanya, Jurnal Ekliptika UNU Pasuruan Tarik Artikel dan Copot Pimpinan Redaksi

Rektor UNU Pasuruan mencopot Pemimpin Redaksi Jurnal Ekliptika setelah artikel ilmiah terbit mencatut nama profesor Jerman tanpa izin.

Profesor Jerman Dicatut Namanya, Jurnal Ekliptika UNU Pasuruan Tarik Artikel dan Copot Pimpinan Redaksi
Ilustrasi jurnal Ekliptika Foto: Dok. Ines Mergel

Pasuruan – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan mengambil tindakan tegas dengan memberhentikan Rudi Kurniawan, ST, MT, dari jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan. Keputusan ini merupakan buntut dari praktik kecurangan akademik yang terungkap dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh jurnal tersebut.

Pencopotan ini tertuang dalam Keputusan Rektor Nomor U071113/R/KP.00.3/5400/2026 tertanggal 30 Oktober 2026. Keputusan tersebut juga menyebutkan bahwa pemberhentian Rudi Kurniawan dari jabatan pengelolaan editorial bersifat administratif dan terpisah dari proses penarikan artikel yang sedang berjalan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Penerbitan, Plagiarisme, Pengelolaan Jurnal, dan Hak Kekayaan Intelektual (UPT P3H), Dr Rani Darmayanti, SPd, MPd, ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Koordinator Pengelolaan Jurnal Ekliptika. Penunjukan ini berdasarkan Keputusan Rektor Nomor U071113/R/KP.00.3/5401/2026 tertanggal 31 Oktober 2026, dengan tujuan menjamin keberlangsungan administrasi dan memfasilitasi langkah-langkah korektif.

Keputusan pemberhentian ini diambil setelah Dewan Editorial melakukan proses klarifikasi terhadap Muhammad Khafid Ainul Yaqin, yang tercantum sebagai penulis pertama, serta Rudi Kurniawan.

Nama Profesor Dicatut Tanpa Izin

Permasalahan ini terungkap ketika seorang profesor dari Jerman, Ines Mergel dari University of Konstanz, menyatakan namanya dicantumkan sebagai penulis artikel ilmiah tanpa sepengetahuannya. Profesor Mergel menegaskan bahwa ia tidak terlibat sama sekali dalam penulisan artikel tersebut, meskipun identitas, afiliasi institusi, dan nomor ORCID miliknya tercantum secara akurat dalam publikasi.

“Saya sama sekali tidak pernah mengetahui keberadaan artikel tersebut, tidak pernah menulis satu kata pun di dalamnya,” ungkap Profesor Mergel dalam korespondensi melalui email, Kamis (29/10/2026).

Klarifikasi Penulis Pertama

Menanggapi hal tersebut, Muhammad Khafid Ainul Yaqin memberikan penjelasan. Ia mengaku awalnya diajak oleh pengelola Jurnal Ekliptika UNU Pasuruan untuk berkolaborasi dalam penulisan artikel ilmiah. Namun, ia tidak pernah menerima konfirmasi yang jelas mengenai penulisan naskah maupun persetujuan atas pencantuman namanya sebagai corresponding author.

Khafid baru mengetahui adanya keberatan dari Profesor Mergel pada 27 Oktober 2026 melalui email. Dalam pesan tersebut, Mergel menyatakan keberatan keras karena namanya dicantumkan sebagai penulis kedua tanpa persetujuan.

Menindaklanjuti keberatan tersebut, Khafid segera menghubungi pengelola Ekliptika pada hari yang sama. Ia meneruskan protes Mergel dan meminta pihak jurnal untuk segera menyelesaikan persoalan ini. Sehari kemudian, pengelola jurnal mengonfirmasi bahwa tidak ada proses permintaan persetujuan yang dilakukan kepada Mergel maupun akademisi lain terkait pencantuman nama mereka.

Khafid mengklaim dirinya tidak terlibat dalam penulisan artikel maupun pencatutan nama para guru besar. Ia bahkan menuding pihak jurnal Ekliptika sebagai pihak yang membuat artikel tersebut secara sepihak. “Artikel yang terbit pada Jurnal ekliptika tersebut, tidak ada campur tangan saya sama sekali. Itu murni artikel yang ditulis oleh pihak pengelola jurnal Ekliptika sendiri tanpa mengajak saya untuk brainstorming terkait substansi, dsb,” ujarnya.

Ia menambahkan, kejadian ini sangat merugikan kredibilitasnya dan penulis lain yang terlibat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *