YOGYAKARTA – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengukir prestasi gemilang dengan menembus 15 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia dalam pemeringkatan Quacquarelli Symonds (QS) Asia University Rankings 2027. Kenaikan delapan peringkat secara nasional, dari posisi ke-23 ke peringkat ke-15, menandai lompatan signifikan bagi universitas swasta ini.
Dalam rilis yang dilaksanakan pada 3 November 2026 di acara QS Higher Ed Summits di Bali, UMY tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga melesat 162 posisi di kancah Asia. Peringkat UMY di Asia naik dari posisi ke-526 menjadi ke-364.
Wakil Rektor UMY Bidang Reputasi, Kerja Sama, dan Digital, Prof. Ir. Slamet Riyadi, M.Sc., Ph.D., menyatakan bahwa pencapaian ini semakin berarti mengingat dominasi perguruan tinggi negeri (PTN) dalam jajaran teratas universitas terbaik di Indonesia. Dari 20 perguruan tinggi berperingkat tertinggi di Indonesia versi QS Asia University Rankings 2027, 16 di antaranya adalah PTN, sementara hanya empat yang merupakan perguruan tinggi swasta (PTS), termasuk UMY.
“Kalau kita lihat 20 besar nasional, secara umum masih didominasi perguruan tinggi negeri dan kampus-kampusnya tidak banyak berubah. Namun, UMY berhasil melesat dari posisi 23 menjadi 15. Ini sinkron dengan capaian di Asia, di mana kami naik hingga 162 peringkat,” ungkap Slamet dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/11/2026).
QS Asia University Rankings 2027 sendiri merupakan edisi terbesar dengan total 1.722 perguruan tinggi dari kawasan Asia yang terdaftar. Di tengah persaingan yang semakin ketat, UMY berhasil mencatat peningkatan yang menonjol, menjadikannya salah satu perguruan tinggi Indonesia dengan lonjakan peringkat paling signifikan pada tahun ini.
Peningkatan peringkat UMY, baik di tingkat Asia maupun nasional, didorong oleh penguatan indikator International Research Network (IRN). Indikator ini mengukur luasnya jejaring kolaborasi riset internasional yang dimiliki sebuah perguruan tinggi.
Selain itu, capaian internasionalisasi UMY juga terlihat pada indikator lain seperti International Faculty, Inbound Exchange Students, dan Outbound Exchange Students. Slamet menilai bahwa strategi internasionalisasi yang diterapkan UMY telah mulai menunjukkan dampak nyata terhadap posisi dan reputasi universitas di tingkat regional.
Ia menambahkan bahwa peningkatan peringkat tidak hanya sekadar angka, tetapi juga mencerminkan penguatan reputasi institusi yang dapat membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas. Posisi dalam pemeringkatan internasional sering kali menjadi referensi penting bagi calon mitra dalam menjajaki kerja sama akademik dan penelitian.
Oleh karena itu, peningkatan posisi UMY di tingkat nasional dan Asia diharapkan dapat memperkuat kepercayaan dari berbagai perguruan tinggi dan mitra internasional untuk menjalin kolaborasi. Hal ini krusial untuk memperluas kerja sama dalam bidang penelitian, pengajaran, pertukaran akademik, serta keterlibatan dosen UMY di berbagai forum internasional.
Peningkatan peringkat ini juga diharapkan memberikan dampak positif bagi sivitas akademika UMY, memberikan peluang lebih besar bagi dosen dan mahasiswa untuk membangun jejaring dengan akademisi dan institusi dari berbagai negara. “Capaian ini akan semakin memperkuat komitmen UMY secara keseluruhan. Tentu kami berharap reputasi UMY di mata para stakeholders juga akan semakin kuat, baik secara nasional maupun internasional,” pungkas Slamet.
Komentar